Melalui website ini kami mau bersaksi dan membagikan berkat-berkat pengalaman dengan Tuhan kepada siapa saja yang mau menerimanya. Kalau ada kekurangan sampaikanlah kepada kami. Sebaliknya kalau Anda diberkati, beritahukanlah website ini kepada orang-orang lain. Kiranya kami boleh menjadi berkat dan Tuhan dipermuliakan. Tuhan memberkati.
Salam hormat kami,
Christanday Family
(baca sekilas tentang kami)
Mira Cecillia Christanday sebagai Maria ibu Yesus.
Rekan2 semua, bahwa lukisan Albrecht Durer ini luar biasa; sudah lama saya terkesan dengan gambar tangan ini, bahkan sebelum mendengar kisahnya, sehingga saya sudah mengabadikan dengan mengukirnya di atas sepotong kayu jati tua yang halus ini; ini aseli kayu tanpa polish/vernish. Saya mengukirnya sekitar 20 tahun lalu.
Tak heran Mc. Angelo pernah berkata: “Saya rela mati demi meninggalkan karya yang besar” dan William James berkata: “Kalau anda mau mati meninggalkan karya yang besar tinggalkanlah karya yang abadi.” Tetapi apa itu yang abadi? Datanglah Yesus yang bersabda: “Langit dan bumi akan lenyap, FirmanKU tinggal tetap.” Jadi hai hamba2 Tuhan, kalau kalian sampai mati memberitakan Firman Tuhan, kalian lebih “hebat” daripada Mc. Angelo dan filsuf modern William James.
Di Balik Kisah Foto Tangan Berdoa
Di sebuah desa kecil dekat Nuremberg, Jerman, di abad 15, hiduplah sebuah keluarga dgn anak-anaknya yg berjumlah 18. Ya, delapan belas! Sang ayah, seorang pedagang emas, bekerja hampir delapan belas jam sehari di tokonya utk menghidupi keluarganya. Apa saja yg berguna dan menghasilkan uang ia kerjakan.
Walaupun kondisi keluarga itu senin-kemis, nyaris tanpa harapan, dua anak sulungnya mempunyai cita-cita tinggi. Albrecht Durer dan adiknya Albert Durer bercita-cita suatu saat kelak mereka akan menjadi seniman terkenal, kuliah di akademi tinggi di Nuremberg, walau pun mereka tahu ayah mereka secara finansial tidak akan mampu membiayai kuliah di sana.
Setelah diskusi yg panjang di suatu malam di tempat tidur mereka yg penuh sesak, kedua anak laki-laki tertua ini akhirnya membuat kesepakatan. Mereka akan melemparkan sebuah koin. Yg menang, dialah yg melanjutkan studi ke akademi utk mengejar impian menjadi seniman terkenal. Yg kalah akan tetap tinggal di kampung halaman, bekerja di pertambangan di dekat rumah mereka, dan dgn penghasilannya dari bekerja itu, membiayai kuliah saudaranya yg akan menjadi seniman hebat. Diharapkan, setelah kuliah empat tahun, sang seniman besar itu sudah bisa kembali dan membiayai adik-adiknya yg lain.
Mereka melemparkan koin. Hasilnya? Albrecht Durer memenangkan undian dan kuliah ke akademi di Nuremberg. Albert tinggal di kampung dan bekerja sebagai buruh tambang, sebuah pekerjaan yg cukup berbahaya kala itu. Selama empat tahun ke depan, ia membiayai saudaranya yg menempuh pendidikan di akademi.
Di akademi, Albrecht ternyata menjadi bintang. Lukisan-lukisannya, ukiran kayunya dan lukisan minyaknya jauh lebih baik daripada karya para profesornya. Dan pada saat ia lulus, ia mendapat cukup banyak uang atas karya-karyanya.
Ketika seniman muda itu kemudian kembali ke desanya, keluarga Durer mengadakan pesta makan malam di halaman rumah mereka utk merayakan kepulangan Albrecht. Setelah makan malam yg panjang dan berkesan, diselingi dgn musik dan tawa, Albrecht bangkit dari posisi terhormat di ujung meja utk minum bersulang bagi adik tercintanya, atas tahun-tahun pengorbanan yg memungkinkan Albrecht memenuhi ambisinya. Di akhir pidatonya, Albrecht berkata, “Sekarang, Albert, saudaraku yg sangat disayangi Tuhan, giliranmu lah. Sekarang engkau sudah punya kesempatan berangkat ke akademi di Nuremberg utk mengejar impianmu, dan saya akan mengurus semua yg kau perlukan.”
Semua kepala berpaling ke ujung meja tempat Albert duduk. Air mata mengalir di wajahnya yg pucat, menggelengkan kepalanya sementara ia menangis dan berulang berkata, “Tidak … tidak .. tidak …. tidak. ” Albert bangkit dan menyeka air mata dari pipinya. Dia melirik ke meja panjang di wajah-wajah yg dicintainya, dan kemudian, memegang tangannya dekat dgn pipi kanan, ia berkata pelan, “Tidak, saudaraku, saya tidak bisa pergi ke Nuremberg. Sudah terlambat utk saya. Lihatlah … lihat apa yg saya dapatkan selama empat tahun bekerja di tambang. Tulang di setiap jari saya telah pernah hancur setidaknya sekali!. Dan akhir-akhir ini saya telah menderita rheumatoid begitu parah di tangan kanan saya, sehingga utk memegang gelas dan bersulang kembali utk mu pun aku tak bisa. Apalagi utk memegang kuas dan melukis garis-garis halus di kanvas. Bagi saya itu sudah terlambat.”
Kini, hampir lima abad sudah berlalu. Ribuan lukisan potret dan karya lainnya dari Albrecht Durer telah beredar dan menghiasi banyak dinding dan ruang di seluruh dunia. Dan hampir dapat dipastikan, sebagian besar orang pernah melihat, bahkan mungkin memiliki reproduksi dari salah satu lukisannya yg sangat terkenal, yakni gambar yg diberi judul: The Praying Hands. Tangan yg berdoa.
Ada sejarah di balik gambar itu.
Suatu hari, utk memberi penghormatan kpd Albert atas semua yg telah dikorbankannya, Albrecht Durer dgn susah payah menghela tangan adiknya itu, meluruskan jari-jarinya dan kemudian melukisnya. Ia memberi judul lukisan itu “Hands,” tetapi seluruh dunia melihat lukisan itu jauh dari sekadar ‘Hands‘ melainkan suatu persembahan cinta yg tulus, tangan yg berkorban dan memohon. Itu lah sebabnya ia lebih terkenal dengan judul “The Praying Hands.” Tangan yg bekerja, berkorban demi mewujudkan sebuah cita-cita dan doa. Itu lah Tangan yg Berdoa.
Selamat pagi Sahabat Etos. Bigger! Higher! Better!
Post Power Syndrome adalah “kegelisahan pasca kehilangan kekuasaan” yang sadar atau tidak sering dialami oleh orang-orang dewasa yang telah memasuki masa purna tugas, karena pensiun, emiritus atau karena sakit. PPS ini makin nampak kalau dahulunya orang ini cukup aktif dan populer serta punya kedudukan; dan terlebih kalau ia turun jabatan atau diturunkan justeru dalam
usia yang masih relatif muda, karena ia merasa mampu tapi disingkirkan. Ia takut kehilangan kedudukan, pengaruh dan popularitasnya; sehingga di mana ada kesempatan ia berusaha untuk tampil dan membuktikan diri. Di bawah ini adalah beberapa contoh kasus:
Kasus 1
Marlin (nama fiktif), akhir-akhir ini banyak berulah, dan ulahnya itu menimbulkan berbagai
reaksi dari banyak orang. Ada yang menggosipkan dia, ada yang bosan dan jengkel dengan dia;
bahkan ada yang menganggapnya “over acting”. Pasalnya? Ia kan sudah bukan majelis gereja
lagi; di samping faktor usianya yang sudah “over seket”, ia sudah dua periode berturut menjadi
majelis; mengapa waktu kebaktian Minggu ia datang, masih lengkap dengan berdasi menyambut
setiap tamu yang datang, dan nampaknya ia kenal dengan semua orang dari gayanya berbicara
kepada mereka; repotnya sampai di dalam gedung gereja bahkan pada saat ibadahpun ia masih
terus berbicara. Bicaranya cukup keras sehingga orang di sekitarnya merasa terganggu. Entah
apa saja yang dibicarakannya; kata teman, ia suka mengkritik dan mencela; liturgosnya begini,
begitu; singersnya pakaiannya tak sopan; pemusiknya main kasar dan volumenya terlalu kuat;
bahkan pengkhotbahnyapun tidak luput dari kritikannya, terlalu bertele-tele, kurang Alkitabiah
dan tidak berbobot. Kemudian ia membanding—kan dengan dirinya sewaktu masih sebagai
majelis, ia tidak sembarangan memilih pengkhotbah, dst. Bukan pada hari Minggu saja ia datang
ke gereja, tapi hampir dalam setiap kegiatan dia hadir walaupun juga bukan panitia. Pada waktu
ada rapat majelis, ia sering “nguping” di dekat jendela; dan tidak sungkan, pada saat “break”
makan, iapun ikut “nimbrung” makan sambil terus bicara. Wah, belum lagi kalau ada acara
kesaksian jemaat, orang-orang pada was-was kalau melihat ia berdiri. Pasalnya? Pasti bertele-
tele dan membosankan karena mengulang-ulang cerita yang sama, yang itu-itu juga. Katanya
sih ia berusaha mau menahan diri untuk memberi kesempatan yang lain; dengan alasan sembari
menunggu yang lain, iapun bersaksi. Yang sebenarnya bukan kesaksian tetapi lebih banyak
pamer masa lalu dan jasa-jasanya, sisanya adalah mengkritik dan mencela generasi penerus. Yah,
itulah pak Marlin.
Kasus 2
Siapa yang tidak sebal bila memiliki ayah yang sudah pensiun dan menganggur, tetapi bila
berbicara selalu yang muluk-muluk. Ayahnya tak henti-hentinya bercerita tentang betapa
hebatnya dia dulu ketika menjabat direktur utama dari sebuah perusahaan garmen di Surabaya.
Seakan-akan dia tidak pernah sadar, bahwa cerita yang selalu diulang-ulangnya sudah puluhan
kali keluar masuk telinga Rudi (nama fiktif). Bila ditegur, ayahnya tidak bisa menerima dan
menganggap Rudi belum berpengalaman atau masih bau kencur.
Bila teman-teman Rudi main ke rumah, ayahnya selalu memberikan “kuliah” kepada teman-
temannya supaya mereka mencontoh apa yang sudah dikerjakan ayahnya. Bahkan bukan hanya
di rumah, di lingkungan tetanggapun, ayah Rudi dikenal sebagai “pengobral” cerita masa lalu
yang sudah usang. Akibatnya, bukan hanya Rudi saja yang jengkel, tetapi tetangganya yang
sudah bosan mendengar cerita ayahnya juga langsung menyingkir begitu melihat ayah Rudi
datang.
Kasus 3
Pak Trimo (nama fiktif) memang sudah tua (lebih 80 tahun) tapi fisiknya masih kuat,
sesekali saja ia masuk Rumah Sakit karena sesak nafas. Di Rumah Sakit rekan-rekan yang
mengunjunginya sering kecele, karena ia tidak ada di kamar, harus dicari dulu. Ternyata ia suka
keliling ke kamar-kamar lain dan suka guyon sama para perawat. Ia banyak cerita tentang masa
lalunya yang penuh pengalaman; ia berjasa dalam mendirikan lembaga ini lembaga itu; ia juga
bercerita tentang keberhasilannya dalam usaha bisnisnya. Setiap bertemu pasien atau perawat
yang baru, ia tidak bosan-bosan menceritakan kisah yang sama.
Kasus 4
Saya sering merasa terganggu oleh sikap beberapa anggota keluarga saya, terutama om (65)
dan sepupu perempuan (50). Padahal mereka adalah orang-orang sukses, tak kekurangan secara
materi.
Ketika masih bekerja, mereka menduduki posisi yang cukup tinggi di kantornya. Om memang
sangat pandai, pernah menjadi brand manager di beberapa perusahaan consumer product untuk
waktu yang lama. Sepupu juga sukses, terakhir bekerja menjadi PR manager di Surabaya.
Sekarang om sudah lama pensiun dan sepupu juga tidak bekerja lagi karena harus ikut suami ke
Jakarta. Saya melihat rasa bangga mereka terhadap diri masih tersisa. Mereka terus merasa hebat
dengan dirinya, sering bercerita mengenai masa-masa hebat mereka dan cenderung mengkritik
dan menganggap orang lain tidak sehebat mereka.
Meski tidak serumah, tapi kami sering bertemu dalam pertemuan keluarga. Nah, di situ baru
rasanya saya terganggu karena mereka terus-menerus berulah seperti itu. Apakah ini yang
disebut post power syndrome? Apakah itu pasti terjadi pada orang-orang yang pernah memiliki
kedudukan yang tinggi, bergengsi dan membanggakan? Apa yang bisa dilakukan untuk
menanggapi perilaku seperti demikian?
Itulah antara lain gejala orang yang mengalami “Post Power Syndrome”; tetapi mengapa bisa
demikian? Dan bagaimana mengatasinya agar tidak meresahkan orang?
Faktor Penyebab
Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya post-power syndrome. Pensiun dini dan PHK
adalah salah satu dari faktor tersebut. Bila orang yang mendapatkan pensiun dini tidak bisa
menerima keadaan bahwa tenaganya sudah tidak dipakai lagi, walaupun menurutnya dirinya
masih bisa memberi kontribusi yang signifikan kepada perusahaan, post-power syndrom akan
dengan mudah menyerang. Apalagi bila ternyata usianya sudah termasuk usia kurang produktif
dan ditolak ketika melamar di perusahaan lain, post-power syndrome yang menyerangnya akan
semakin parah.
Kejadian traumatik juga menjadi salah satu penyebab terjadinya post-power syndrome. Misalnya
kecelakaan yang dialami oleh seorang pelari, yang menyebabkan kakinya harus diamputasi.
Bila dia tidak mampu menerima keadaan yang dialaminya, dia akan mengalami post-power
syndrome. Dan jika terus berlarut-larut, tidak mustahil gangguan jiwa yang lebih berat akan
dideritanya.
Post-power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia dan pensiun
dari pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang berhasil melalui fase ini dengan cepat dan
dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, dimana
seseorang tidak mampu menerima kenyataan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang
terus mendesak, dan dirinya adalah satu-satunya penopang hidup keluarga, resiko terjadinya
post-power syndrome yang berat semakin besar.
Beberapa kasus post-power syndrome yang berat diikuti oleh gangguan jiwa seperti tidak
bisa berpikir rasional dalam jangka waktu tertentu, depresi yang berat, atau pada pribadi-
pribadi introfert (tertutup) terjadi psikosomatik (sakit yang disebabkan beban emosi yang tidak
tersalurkan) yang parah.
Pengertian dan gejala
Secara umum, orang yang mengalami post power syndrome sebenarnya diliputi rasa kecewa,
bingung, kesepian, ragu-ragu, khawatir, takut, putus asa, ketergantungan, kekosongan, dan
kerinduan. Selain itu, harga dirinya juga menurun, merasa tidak lagi dihormati dan terpisah dari
kelompok. Semua ini biasanya tidak begitu disadari oleh yang bersangkutan.
Gejala ini umumnya terjadi pada orang yang tadinya mempunyai kekuasaan atau jabatan dan
ketika jabatan itu sudah tak lagi dipegang, muncullah berbagai gejala psikologis atau emosional
yang sifatnya kurang positif.
Beberapa gejala biasanya dapat dibagi ke dalam 3 ranah.
kalah, dan menunjukkan kemarahan baik di rumah maupun di tempat umum.
Post power syndrome banyak dialami oleh mereka yang baru saja menjalani masa pensiun atau
emiritus. Pensiun merupakan masa seseorang secara formal berhenti dari tugasnya selama ini,
bisa merupakan pilihan atau keharusan.
Para pensiunan terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang bahagia karena dapat menyelesaikan
tugas dan pengabdiannya dengan lancar. Sebaliknya, ada juga yang mengalami ketidakpuasan
atau kekecewaan akan kehidupannya.
Sindrom ini bisa dialami oleh pria maupun wanita, tergantung dari berbagai faktor, seperti ciri kepribadian, penghayatan terhadap makna dan tujuan kerja, pengalaman selama bekerja,
pengaruh lingkungan keluarga dan budaya. Berbagai faktor tersebut menentukan keberhasilan
individu dalam menyesuaikan diri menghadapi masa pensiun. Post power syndrome merupakan
tanda kurang berhasilnya seseorang menyesuaikan diri.
Masa pensiun bisa memengaruhi konsep diri karena pensiun menyebabkan seseorang kehilangan
peran, status, dan identitasnya dalam masyarakat menjadi berubah sehingga dapat menurunkan
harga diri. Bila anggota keluarga memandang pensiunan sebagai orang yang sudah tidak
berharga lagi dan memperlakukan mereka secara buruk, bukan tak mungkin juga akan memicu
munculnya sindrom ini.
Beberapa ciri kepribadian yang rentan terhadap post power syndrome di antaranya adalah
mereka yang senang dihargai dan dihormati orang lain, suka mengatur, ”gila jabatan”, menuntut
agar permintaannya selalu dituruti, dan suka dilayani orang lain.
Selain itu, ada pula mereka yang sebenarnya kurang kuat kepercayaan dirinya sehingga selalu
membutuhkan legitimasi dari orang lain.
Cara Mengatasinya
Ada dua faktor untuk mengatasinya, yaitu dari eksternal, jika lingkungan bisa menerima
keberadaan pasien, maka penderita Post Power Syndrome akan sangat terbantu. Tetapi yang
lebih penting adalah faktor internal dalam dirinya sendiri.
Penyembuhan internal oleh penderita Post Power Syndrome, mencakup:
Faktor Eksternal yang menolong penderita Post Power Syndrome, mencakup:
Penanganan
Bila seorang penderita post-power syndrome dapat menemukan aktualisasi diri yang baru, hal
itu akan sangat menolong baginya. Misalnya seorang manajer yang terkena PHK, tetapi bisa
beraktualisasi diri di bisnis baru yang dirintisnya (agrobisnis misalnya), ia akan terhindar dari
resiko terserang post-power syndrome.
Di samping itu, dukungan lingkungan terdekat, dalam hal ini keluarga, dan kematangan emosi
seseorang sangat berpengaruh pada terlewatinya fase post-power syndrome ini. Seseorang yang
bisa menerima kenyataan dan keberadaannya dengan baik akan lebih mampu melewati fase ini
dibanding dengan seseorang yang memiliki konflik emosi.
Dukungan dan pengertian dari orang-orang tercinta sangat membantu penderita. Bila penderita
melihat bahwa orang-orang yang dicintainya memahami dan mengerti tentang keadaan dirinya,
atau ketidak mampuannya mencari nafkah, ia akan lebih bisa menerima keadaannya dan lebih
mampu berpikir secara dingin. Hal itu akan mengembalikan kreativitas dan produktifitasnya,
meskipun tidak sehebat dulu. Akan sangat berbeda hasilnya jika keluarga malah mengejek dan
selalu menyindirnya, menggerutu, bahkan mengolok-oloknya.
Post-power syndrome menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Kematangan emosi
dan kehangatan keluarga sangat membantu untuk melewati fase ini. Dan satu cara untuk
mempersiapkan diri menghadapi post-power syndrome adalah gemar menabung dan hidup
sederhana. Karena bila post-power syndrome menyerang, sementara penderita sudah terbiasa
hidup mewah, akibatnya akan lebih parah.
Contoh dan ayat-ayat dalam Alkitab tentang Post Power Syndrome
Barangkali kisah raja Saul yang sangat iri dan benci terhadap Daud, adalah akibat Post Power Syndrome yang dialaminya. Kisah ini dapat dibaca dalam I Samuel 18.
Harus dengarkan biar iman anda tidak tergoncangkan.
Outline:
Direkam di IFGF GISI Houston, TX