I Yohanes 3:1-10
“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” (I Yoh. 3:1)
Kalau sebutan “orang percaya” dalam PB lebih dari 30 ayat; maka sebutan “anak-anak Allah” bagi orang kristen (dalam bahasa Inggeris “sons of God” atau “children of God”) ada dalam 14 ayat. Perlu diperhatikan bahwa penyebutan “anak-anak Allah” sering disebutkan dengan huruf kecil dan jamak, untuk membedakan Yesus sebagai “Anak Allah” yang menunjukkan keillahianNya.
Lalu apa makna dari “anak-anak Allah”? Pertama, “anak” merupakan hubungan kasih yang akrab, namun hormat dalam keluarga, seperti hubungan bapa dan anak. “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Galatia 4:6). Mantan presiden Gus Dur dengan humor pernah berkata: “Hubungan yang paling akrab/dekat antara Allah dan umatNya adalah hubungan antara orang kristen dengan Allah yang memanggilNya Bapa dalam berdoa...” Rasul Yohanes yang dikenal dengan “Rasul Kasih” dalam suratnya (I Yoh. 3:1-10) mengatakan bahwa penyebutan “anak-anak Allah” bagi manusia yang tadinya musuh Allah, merupakan penyataan kasih Bapa yang luar biasa besarnya.
Kedua, istilah “anak” mengacu kepada hak sebagai ahli waris Kerajaan Sorga. “Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?” (Yakobus 2:5)
Ketiga, kata “anak” mengacu pada sifat keturunan. Anak biasanya membawa sifat-sifat bapanya, bukan saja warna kulitnya tetapi juga karakternya. Sebagaimana Kristus membawa sifat-sifat BapaNya, demikian seharusnya kita memiliki sifat-sifat agung Tuhan dari Bapa kita. “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,… Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,” (Kol. 1:15; 19)
Pertanyaan yang terpenting sekarang adalah: bagaimana dan sejak kapan kita layak disebut “anak-anak Allah”? Jawabnya ada dalam Yohanes 1:9-12
1:9 “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. 1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”
Yesus sebagai Terang Dunia telah datang ke dunia, tetapi dunia tidak mengenalnya, bahkan umatNya (Israel) menolak Dia; tetapi semua orang yang menerima dan percaya kepadaNya, termasuk Anda dan saya, diberi kuasa/hak/otoritas untuk menjadi “anak-anak Allah”, haleluya!
Refleksi
Di mana ada hak, di situ ada tanggung jawab. Kita bangga diberi hak menjadi anak-anak Allah, tetapi kita bertanggung jawab untuk terus menjalin hubungan kasih yang akrab dan hormat dengan Bapa, serta mencerminkan sifat-sifat Bapa.
One Response
Leave a Reply
Menarik sekali.