Waktu itu belum ada TV, jadi kalau senja yang sering saya lakukan bersama anak-anak tetangga adalah tidur-tiduran di rumput dan menatap ke langit, menghitung bintang. Pengalaman ini membuat saya mulai berpikir. Langit itu ada atau tidak? Itu lho yang kalau siang nampak biru berawan dan kalau malam nampak hitam bertaburkan bintang. Lalu terjadi diskusi dalam diriku sendiri. Kalau saya jawab langit itu ada, nyatanya pesawat jet yang terbang tinggi tidak pernah menabrak dinding yang namanya langit. Tetapi kalau dibilang langit itu tidak ada, kok nampak wujudnya. Kesimpulanku ada ruang yang tidak terbatas luasnya, dengan kata lain tak terhingga atau kekal. Pemikiran ini membuat saya percaya kalau ada kekekalan, entah itu sorga atau neraka. Lalu, saya kagum melihat tata surya dan bintang semesta yang tidak terhitung jumlahnya. Lagi saya berpikir, bagaimana ada begitu banyak lampu besar dan kecil di angkasa, bisa menyala tanpa kabel, tanpa generator, dan tidak jatuh ke bumi. Timbul pertanyaan baru siapa yang mencipta dan memeliharanya? Pasti ada!
Klik disini untuk full artikel dalam bentuk PDF.
Boleh direproduksi secara gratis dengan sepengetahuan kami.
Leave a Reply