line line

Indonesia: Dahulu dan Kini

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)

INDONESIA: DAHULU DAN KINI

Wawancara oleh: Ivan, “In Touch” Perkantas

 

Sejak bangsa Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1997, kondisi rakyat Indonesia menjadi semakin buruk. Bahkan krisis yang terjadi, kini sudah berkembang menjadi krisis multidimensi, di mana krisis yang ada bukan hanya terjadi pada aspek moneter saja, tapi sudah merambah ke aspek yang lain, seperti krisis ekonomi, krisis moral, dan sebagainya. Tragis memang, apalagi kalau melihat negara-negara lain di Asia yang juga mengalami krisis yang sama, sekarang sudah mulai bangkit bahkan sudah pulih dari krisis yang menimpanya. Keadaan bangsa yang seperti ini tentunya mengundang keprihatinan kita bersama. Paling tidak, keprihatinan itu juga dirasakan oleh Andreas Christanday, pendiri dan pembina  yayasan Christopherus Semarang.

“Saya dulu bangga dengan bangsa Indonesia. Kalau ke luar negeri saya dengan bangga memperkenalkan budaya Indonesia. Saya senang memakai pakaian batik dan  menceritakan keberagamaan dan kekayaan sumber daya alamnya yang sulit tertandingi oleh negara manapun di dunia ini. Pancasila yang hebat dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika banyak dipelajari oleh negara tetangga. Belum lagi keluasan negara yang unik karena terdiri dari laut dan ribuan pulau dengan keramah-tamahan penduduknya yang menjadi ciri khas bangsa ini. Itu semua membuat saya semakin bangga dengan negeri tercinta kita ini,” katanya bersemangat.

“Tapi sekarang saya kecewa dengan bangsa ini. Kecewa di sini masih dalam konteks kecintaan saya terhadap bangsa ini. Mengapa kecewa? Kecewa karena sepertinya semua yang saya banggakan dulu itu kini seakan hilang atau luntur. Semua yang saya banggakan itu sudah terkubur dan tenggelam oleh berbagai permasalahan multi dimensi yang dialami oleh bangsa kita. Negara yang katanya menjunjung tinggi demokrasi ini melanggar sendiri asas demokrasi. Demo memperjuangkan HAM malah berlangsung anarkis. Padahal tindakan anarkis adalah tindakan yang melanggar HAM. Lembaga-lembaga yang seharusnya bertugas mendidik generasi penerus bangsa jauh dari mutu yang bagus. Tidak heran jika peserta didiknya berkelakuan seperti orang yang tidak pernah dididik. Intinya, bangsa kita sudah mengalami kemerosotan etika, moral, dan filosofinya. Tidak hanya itu, nampaknya bangsa kita juga sudah menjadi bangsa yang stres. Banyak penduduknya yang melakukan perbuatan-perbuatan yang nekat, yaitu tindakan khas orang stres. Coba kita ingat berita di media, berapa banyak orang yang tiba-tiba naik tower (biasanya tower pemancar milik salah satu operator seluler) dan ingin terjun dari sana? Berapa banyak orang-orang yang begitu mudahnya gantung diri karena tidak tahan dengan kesulitan   yang dideritanya, karena lilitan utang, atau karena masalah percintaan dengan pasangannya? Yang lebih miris, ada anak SD yang nekat bunuh diri karena malu belum membayar uang sekolah. Contoh tindakan stres yang lain adalah adanya calon bupati yang mengamuk merusak kantor pemerintah, karena dirinya gagal menjadi bupati terpilih. Tanpa sadar, kalau ia jadi bupati harus membangun kembali kantor itu, uangnya siapa? Bahkan ada pemerintah daerah yang membuat rumah sakit jiwa yang disediakan khusus untuk para caleg yang mengalami gangguan jiwa karena gagal lolos menjadi anggota legislatif. Bangsa kita memang sedang stres. Lihatlah, dulu belum pernah terjadi kerasukan iblis secara massal seperti yang sering terjadi di pabrik dan sekolah-sekolah negeri. Inilah yang membuat saya kecewa, karena saya seperti sudah tidak bisa lagi (baca: sulit) bangga terhadap bangsa ini,” jelasnya.

            Apa yang diungkapkan Bp. Andreas ini tidaklah berlebihan. Pendapat tersebut merupakan reaksi jujur atas apa yang sudah ia rasakan selama ini. Apa yang ia katakan juga patut kita jadikan introspeksi. Apa yang masing-masing kita lihat dan rasakan dengan keadaan bangsa Indonesia, apakah juga membuat kita prihatin? Ini penting. Sebab kalau tidak, kita akan sulit untuk mempunyai beban apalagi berbuat sesuatu bagi bangsa ini.

Indonesia: Bangsa yang miskin

Selain cerita di atas, ada satu lagi permasalahan yang patut mendapat perhatian dari kita. Apa itu? Jawabannya adalah masalah kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2007 sebanyak 37,17 juta jiwa. Sedangkan menurut laporan Australia-Indonesia Partnership (Juli 2004), lebih dari separuh penduduk Indonesia yang berjumlah 210 juta rawan terhadap kemiskinan. Pada tahun 2002, Bank Dunia memperkirakan 53% penduduk atau sekitar 111 juta jiwa, hidup di bawah garis kemiskinan standar internasional yaitu US$ 2 per hari. Badan Dunia yang menangani masalah pangan, World Food Programme (WFP) memperkirakan, anak Indonesia yang menderita kelaparan akibat kekurangan pangan saat ini berjumlah 13 juta orang.

Keadaan negara yang sangat buruk dewasa ini juga telah dipaparkan oleh Wakil Ketua Badan Legislasi DPR, Bomer Pasaribu, “Kondisi masyarakat Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 36 tahun terakhir. Hal itu dilihat dari melonjaknya angka kemiskinan serta meledaknya angka pengangguran, yang bila tak segera diatasi akan menjadi masalah besar bangsa,” katanya dalam makalah yang disampaikan pada Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 di Medan. Dia juga mengatakan bahwa seiring dengan melonjaknya angka kemiskinan, angka pengangguran juga makin meledak. Tahun 2004, pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 9,7 persen, sementara tahun 2005 meningkat menjadi 10,3 persen.
“Akibat parahnya kesulitan ekonomi, pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 11,1 persen tahun 2006. Bila ditotal dengan seluruh jenis pengangguran di Indonesia tahun 2006 diperkirakan mencapai 41 persen atau lebih dari 40 juta orang,” katanya. (Antara News, 7 Juli 2007).

Dengan melihat angka-angka 13 juta anak-anak kelaparan, dan lebih dari 100 juta orang hidup dengan kurang dari $ 2 sehari, serta sekitar 40 juta orang menganggur, maka jelas bahwa kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini adalah buruk sekali, bahkan yang terburuk dalam 36 tahun terakhir!

Kemiskinan: Apa dan Mengapa?

Membahas tentang kemiskinan, Andreas Christanday juga mempunyai perspektif tersendiri dalam mengartikan hal ini.

“Untuk bisa mengerti apa itu miskin, ada baiknya  kita  mengerti dulu apa itu kaya,”  katanya.

 “Kaya menurut pendapat saya adalah orang yang mempunyai sesuatu lebih dari apa yang ia butuhkan. Tetapi perlu diingat, apa yang dibutuhkan di sini tidak melulu diartikan sebagai hal-hal yang dipandang mewah”, lanjutnya.

“Ada satu kisah menarik yang cukup bisa membantu pengertian tersebut. Alkisah ada dua orang yang pergi ke suatu tempat bersama-sama. Berhubung tempatnya cukup terpencil, tidak bisa lewat jalan darat, dan harus melewati padang pasir yang cukup luas, maka untuk mencapai tempat tersebut hanya bisa ditempuh menggunakan pesawat yang kecil. Karena kondisi ini, maka pesawat hanya bisa ditumpangi oleh pilot dan kedua orang tersebut berikut barang bawaannya. Yang menarik di sini adalah barang yang mereka bawa. Yang satu, sebut saja si A, membawa emas dalam jumlah yang banyak, sedang yang satunya lagi, sebut saja si B, membawa banyak sekali galon yang berisi air. Di tengah perjalanan, tiba-tiba pesawat yang mereka tumpangi mengalami gangguan mesin dan harus mendarat darurat di padang pasir. Sungguh ajaib, mereka berdua selamat sedangkan sang pilot meninggal karena bagian depan pesawat rusak berat. Sinyal juga terputus sehingga mereka tidak bisa menghubungi siapapun. Supaya mereka selamat, mereka harus mengadakan perjalanan setidaknya dua hari untuk sampai ke pemukiman yang terdekat.  Nah, dalam kondisi yang demikian, dari kedua orang ini mana yang lebih kaya? Si A yang punya banyak emas atau si B yang punya banyak persediaan air?”, ia menghentikan ceritanya seraya memberi kesempatan untuk berpikir.

“Kalau menilik kembali pengertian saya tentang definisi kaya, maka bukan si A yang punya banyak emas yang diartikan sebagai orang kaya. Emas seberapapun banyaknya tidak akan ada artinya kalau ia ada di tengah gurun seperti cerita tadi”, katanya.

            Terlepas dari apa yang sudah dijelaskan oleh Andreas Christanday tentang kemiskinan, tentu kitapun juga mempunyai definisi sendiri-sendiri. Namun hal penting lain yang patut kita mengerti adalah mengapa kemisikinan itu bisa terjadi. Sehingga diharapkan akan muncul tindakan-tindakan pencegahan bagi yang tidak mau miskin dan keinginan bangkit bagi orang-orang yang masih terjerat dalam masalah kemiskinan.

Menurut Dr. Ruth F. Selan, dalam buku/buletinnya yang berjudul “Sahabat Gembala”, Secara umum, ada empat hal yang menyebabkan orang menjadi miskin:

  1. Budaya bergantung kepada orang lain.
  2. Ketidakmampuan dari suatu generasi ke generasi yang lain untuk berpartisipasi dalam masyarakat yang lebih luas.
  3. Perkembangan yang terhambat dari potensi manusia.
  4. Meningkatnya orang tua tunggal: janda yang menjadi kepala rumah tangga. Jumlah orang miskin terus bertambah.

Beda lagi dengan apa yang diungkapkan dalam buletin Gema Kalvari dengan artikelnya yang berjudul “Kemiskinan dan Cara Mengatasinya” yang ditulis oleh Sumadi Adikusuma. Menurutnya, faktor-faktor penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut:

  1. Kemalasan.
  2. Kebodohan dan pemborosan.
  3. Bencana alam.
  4. Kejahatan, misalnya dirampok
  5. Genetik dan dikehendaki (diizinkan) Tuhan, baik genetik orang tua, tempat lahir, keadaan orang tua yang miskin, dan sebagainya.

Sedangkan Andreas Christanday ketika ditanya tentang penyebab kemiskinan lebih menyoroti karakter dari manusianya sendiri. Selain kemalasan, prinsip “narimo ing pandum” yang dibarengi dengan rendahnya semangat dan inovasi akan membuat manusia akan semakin malas dalam berusaha. Apalagi kalau sudah ditambah dengan alasan “takdir”, yang membuat orang tersebut merasa percuma ketika berusaha.
Gereja dan Kemiskinan

Tuhan Yesus berkata, “… orang-orang miskin selalu ada padamu” (Matius 26:11). Gereja dan orang Kristen, baik ke dalam dan keluar selalu menghadapi orang-orang miskin. Suatu pendekatan alkitabiah dalam masalah ekonomi pasti akan menyoroti masalah kemiskinan.

Menurut Andreas Christanday, ketika diperhadapkan dengan pertanyaan apa kaitan gereja dengan kemiskinan, ternyata ia mempunyai jawaban yang mengagetkan. Menurutnya gereja sekarang justru miskin. Ia mengatakan hal ini dalam konteks pengertian miskin – kaya yang sudah ia kemukakan sebelumnya. Banyak gereja yang hanya berfokus mengejar emas padahal yang dibutuhkan sekarang adalah persediaan air bagi yang haus. Akhirnya fenomena yang terjadi adalah banyak gereja yang eksklusif, kehadirannya kurang dirasakan masyarakat, bahkan menimbulkan kecemburuan sosial. Ia juga menceritakan pengalamannya ketika melihat saldo pendapatan sebuah gereja yang sisa sedemikian banyak namun “miskin program” untuk membagi berkat bagi masyarakat di sekitarnya.

Tanggung Jawab Gereja

Lantas bagaimana seharusnya sikap Gereja terhadap kemiskinan, baik itu orang Kristen secara pribadi maupun secara komunitas? Perlu disadari bahwa usaha untuk mengentaskan kemiskinan yang hanya berpusat pada kelompok garis bawah kemiskinan dapat salah arah bila jalan keluarnya hanya dengan memberikan uang. Sebaliknya, perlu usaha untuk mengenal penyebab suatu kemiskinan dari sekelompok orang-orang miskin sehingga kita dapat menanganinya secara tepat.

Menurut Dr. Ruth F. Selan, yang dapat dilakukan Gereja dalam perannya terhadap kemiskinan adalah:

  1. Pelayanan penginjilan, termasuk di dalamnya adalah:
  • sosiologi dan keselamatan;
  • reformasi dan penebusan;
  • kebudayaan dan pertobatan;
  • suatu orde sosial baru dan kelahiran baru;
  • suatu revolusi dan regenerasi.

Jika penginjilan yang dilakukan tidak berorientasi pada prinsip ini, penginjilan itu tidak mampu, berpandangan sempit, dan akan gagal untuk menghidupi panggilan ilahi yang mulia dari Amanat Agung.

  1. Pemberian pelayanan dan pendidikan serta pelatihan bagi orang-orang miskin agar mereka dapat menolong diri sendiri. Masalah harga diri, pemberantasan buta aksara, dan keterampilan kerja dapat diberikan dalam program pendidikan tersebut. Pelaksanaannya dapat dilakukan dalam bentuk kerja sama antar gereja ataupun antara gereja dan pemerintah setempat.
  2. Kelompok kerja dalam gereja. Kelompok ini memimpin jemaat untuk menolong pemerintah dengan memberikan informasi dan keprihatinan mereka terhadap orang-orang miskin.

            Sedangkan lembaga Kristen non gereja, menurut Andreas Christanday, harus bisa bersinergi dan saling mendukung dengan gereja. “Misal ketika gereja kekurangan program yang spesifik ya dukunglah lembaga-lembaga Kristen yang biasanya sudah mempunyai visi yang spesifik dalam menjalankan perannya. Sebaliknya, pihak lembaga juga harus kreatif menciptakan program yang tidak menyaingi atau bahkan sama dengan program yang sudah dibuat oleh gereja-gereja”, jelasnya.  

 Lantas bagaimana dengan individu-individunya? Untuk pertanyaan ini Andreas Christanday juga punya jawabannya. Ia kembali menghubungkan dengan pengertian miskin-kaya yang sudah dijelaskannya.

“Untuk bisa kaya ya kita harus punya lebih dari yang kita butuhkan, sehingga lebihnya itu bisa kita bagi pada orang yang membutuhkan”, katanya.

            “Bedakan keinginan dengan kebutuhan, harus tahu situasi dan kondisi seperti yang dialami dua orang dalam cerita tadi, butuh pula didukung oleh pendidikan dan pelatihan, pelajaran etika dan moral”, lanjutnya.

            Di akhir ceritanya, ia  memberikan pesan kepada Gereja Tuhan bahwa kita harus siap dalam pelayanan Diakonia karena dalam pelayanan ini kita tidak boleh mengharap untung, siap merugi, siap ditipu orang, dijengkelkan orang dan sebagainya. Ia juga memberi penguatan terhadap orang yang dipandang miskin dengan mengatakan bahwa Allah senantiasa membela orang miskin.   “Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.“ (Yeh. 16:49). Tapi di sisi lain sebagai penyeimbang, pihak yang miskin juga harus selalu berusaha dan tidak boleh malas. “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” (Ef. 4:28).  

Indonesia: Dahulu dan Kini, 5.0 out of 5 based on 2 ratings

line
footer
Join Good Neighbour Society to have your own website.