line line

Memamah Biak

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 4.5/5 (2 votes cast)

Tinggal di pedesaan memberi kesan tersendiri buat saya. Di ambang senja saya mencium aroma yang spesifik, yaitu bau rumput yang sengaja dibakar untuk mengusir nyamuk. Para petani ini bahkan ada yang tidur satu kamar, tepatnya satu ruang dengan lembunya, rekan sekerja yang sama-sama melepaskan lelah setelah seharian membajak di sawah.

Di siang hari waktu lembu itu sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang, ada satu hal yang saya perhatikan, mulutnya selalu bergerak mengunyah sesuatu. Itulah “memamah biak” kata guru saya dulu. Binatang yang memamah biak perutnya berlapis-lapis, makanan yang tadi secara kasar di simpan di perut, di keluarkan lagi ke mulut untuk dikunyah dan dicernakan lagi ke lapisan perut yang lain dan seterusnya, sehingga lembu itu mendapat sari makan untuk kebutuhan tubuhnya. .. Sungguh hebat “mesin susu” ini sehingga dari rumput yang hijau bisa dihasilkan susu yang putih.

Seharusnya itulah yang dilakukan oleh anak-anak Allah kalau benar-benar mau menikmati rhema Firman Tuhan. Bukan hanya sekedar membaca Alkitab untuk memenuhi kewajiban bersaat teduh secara legalistik, merasa terbeban tanpa mendapat sesuatu apapun. Kita harus membaca dan merenungkannya siang dan malam, menggali dan menggali, mengadakan refleksi: Saya membaca tentang apa? Mengapa demikian? Dan bagaimana menerapkannya? Hanya dengan demikian dan di bawah bimbingan Roh Kudus (Yohanes 16:13  Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang), kita bisa mengalami dan merasakan seperti Daud, menikmati manisnya madu sorgawi  ”Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku” (Maz. 119:103)

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja,

tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4)

Refleksi

Untuk kebutuhan jasmani, kita minimal makan tiga kali sehari.

Berapa kali sehari kita memberi makan jiwa dan rohani kita?

Memamah Biak, 4.5 out of 5 based on 2 ratings

line
footer
Join Good Neighbour Society to have your own website.