line line

Keluarga yang Tak Tergoncangkan

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 5.0/5 (3 votes cast)

Membangun Keluarga yang Tak Tergoncangkan, 3.3 out of 5 based on 12 ratings

Nama Yesus Menara Yang Kuat

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 3.7/5 (9 votes cast)

Bangkit Srukan Nama Yesus
Ir. Erwin Badudu, Franky Sihombing
Key: G

C/G   G   C/G   G        G/D   D
Bang- kit s'ru- kan nama Ye -  sus
Em7     F          D11  D
Maju nyatakan KuasaNya
     Em7   C
Kita buat i-blis gemetar
Em7        C
Kalahkan ti-pu dayanya
Am7  G/B   C    (Am7)  Dsus  D
De - ngan  Kuasa Nama- Nya

reff:
     G    G/B   C  C/D        G  G/B   C
Nama Yesus        menara yang kuat
C/D   G            F            D11  D
Nama  Yesus Kota benteng yang teguh
     Am7   G/D   C/D   D  G   G/B   C
Nama Yesus kalah-kan   se-mua mu -  suh
     Am7     G/D   C/D   D  G
Nama Yesus diatas  s'ga- la-nya
Membangun Keluarga yang Tak Tergoncangkan, 3.3 out of 5 based on 12 ratings

Alkitab dan Keluargaku

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 4.1/5 (7 votes cast)

Entah bagaimana jadinya kalau keluarga kami hidup tanpa Alkitab; sulit saya membayangkan. Barangkali saya dan kakak kandung saya Pdt. Em. Charles Christano tidak akan menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Mungkin dia sedang giat-giatnya praktek sebagai dokter dan saya sedang sibuk mengawasi bengkel alat-alat elektronik. Itu yang dulu kami dambakan, kakak bercita-cita menjadi seorang dokter dan saya masuk sekolah tehnik listrik untuk menjadi sarjana tehnik. Maklumlah keluarga kami waktu itu adalah keluarga yang kurang mampu, sehingga hanya kami bertiga (ditambah seorang kakak perempuan, Inggriani, yang sekarang juga aktif dalam pelayanan bersama suaminya Dani Pribadi) yang mengenyam pendidikan tinggi. Kakak-kakak yang lain rela tidak bersekolah, mereka membuka warung dan menjadi sopir taxi untuk membiayai kami. Keluarga kami jatuh miskin karena waktu zaman Jepang, kami yang tinggal di desa Tlogowungu Pati, sempat dirampok dan rumah kami dibakar sampai dua kali. Maka keluarga kami mengungsi ke kota Pati dan ayah merintis usaha bengkel sepeda, bengkel sepeda tidak membutuhkan modal yang besar. Bertepatan di depan rumah kami ada lapangan sepak bola Pragolo, sehingga kami bisa mendapat uang tambahan dengan menjadi tukang parkir sepeda (waktu itu belum ada sepeda motor, dan sepedapun harus dikenakan biaya khusus yang disebut “peneng”[1]).

Sekilas tentang Pdt. Em. Charles Christano dan Saudara-Saudaraku

Nama aslinya Tan Ing Tjioe. Dia adalah kakak kandungku laki-laki, urutan kelima dari tujuh bersaudara. Kami bersaudara terdiri dari empat perempuan dan tiga laki-laki:

  1. Tan Giok Lian  Nio
  2. Tan Siem Nio (Tan Giok Swie Nio)
  3. Tan Ing Tjian
  4. Tan Hwie Nio
  5. Tan Ing Tjioe
  6. Tan Ing Nio
  7. Tan Ing Thay (saya)

Lulus dari SMA Loyola Semarang, ia melanjutkan studinya di Sanata Dharma, sastra Inggris. Ia terpanggil menjadi hamba Tuhan dan menyiapkan dirinya, studi di STT Jakarta. Gelar Masternya diperoleh di Discipleship Training Centre Singapore dan London Bible College.  Ia pernah menjabat sebagai ketua Sinode GKMI, president Mennonite World Conference dan gembala sidang GKMI Kudus sampai pensiun. Menikah dengan Lie Kwie Hwa, dan dikaruniai dua putera, satu puteri dan dua orang cucu.

Begitu hebatnya peran Alkitab dalam keluarga ayah saya, sehingga kami anak cucunyapun mengikuti teladannya, kami menempatkan Alkitab sebagai pedoman  dalam keluarga kami. Apa jadinya keluarga kami bila tanpa berpedoman pada Alkitab. Bisa saja ada dari anak kami yang terlibat pergaulan bebas atau narkoba. Puji Tuhan, anak-anak, menantu dan cucu-cucu semua rajin ke gereja dan aktif dalam pelayanan, baik di dalam maupun di luar negeri. Meskipun negara Amerika dikenal sebagai tempat yang “bebas moral”, syukur, anak-anak yang berada di sana baik-baik saja.

Keteladanan Orang Tua

Semuanya diawali oleh teladan dan disiplin dari orang tua saya.  Tidak ada cara mendidik anak seampuh keteladanan dan disiplin orang tua.

Sedikit latar belakang dari ayah saya. Ia dari kecil hidup sebatang kara, terpisah dari keluarga karena bencana gunung berapi. Dari Jember, Lumajang, merantau sampai ke Semarang, Kudus dan menetap di desa Tlogowungu Pati. Sewaktu di Semarang, ayah saya yang latar belakangnya ikut kepercayaan Tionghoa, sering melihat di kelenteng ada banyak patung dewa-dewi, seperti dewa langit, dewa laut, dewa bumi, dewa dapur, dst. Secara nalar ayah saya berpikir, “Seandainya mereka ini saya adu, mana yang paling hebat. Yang berkuasa di sorga dan bumi, harus ada… tetapi siapa namanya?” Dengan kata lain, ayah saya sudah percaya “monotheisme”, tapi tidak tahu siapa NamaNya. Sampai John Sung seorang penginjil Cina melalui tim-nya memberitakan Injil ke desa Tlogowungu. Waktu itu dijelaskan bahwa menurut Matius 28:18, “Yang berkuasa di sorga dan di bumi  adalah Yesus”. Itulah Nama yang selama ini ia cari, maka ayah saya mau menerima Kristus. Bukan hanya begitu, tetapi sejak itu hidupnya sungguh mengalami perubahan yang luar biasa, dan seterusnya mendidik anak cucunya secara Kristen.

Bagi ayah, Alkitab Perjanjian Lama & Perjanjian Baru[2], yang waktu itu masih mahal dan langka, disebut “Kitab Wasiat Yang Lama” dan “Kitab Wasiat Yang Baru”, benar-benar dihargai ayah saya sebagai “wasiat”,[3] sehingga diberi sampul kulit yang bagus dan dibaca siang dan malam. Begitu cintanya ayah saya dengan Alkitab ini sehingga Alkitablah yang terlebih dahulu diselamatkan dari kobaran api waktu rumah kami dijarah dan dibakar.

Kecintaan ayah akan Alkitab ini ditularkan kepada anak-anaknya untuk bersaat teduh tiap hari dan membaca Alkitab secara urut. Untuk mendisiplin kami, ayah setiap tahun khusus pesan ke Lembaga Alkitab Indonesia daftar bacaan Alkitab. Setiap hari kami harus menandai setiap kotak ayat yang sudah kami baca. Sekarang kita patut bersyukur karena sudah tersedia berbagai buku panduan Saat Teduh yang menarik, bukan sekedar daftar bacaan Alkitab. Bahkan ada edisi khusus untuk pemuda, remaja dan anak-anak.

Begitulah kami dididik untuk memperlakukan Alkitab dengan hormat. Pertama, mengerti atau tidak, kami dilatih untuk mencintai “Firman Tuhan”. Bahkan meskipun waktu itu saya belum mengerti, bagaimana sebuah buku bisa disebut Firman Tuhan. Kedua, kami dilatih untuk percaya bahwa Alkitab itu adalah “wasiat, wahyu dari Allah”. Kami harus mentaatinya dan pasti diberkati. Meskipun ayah tidak mampu menjelaskan Alkitab sesuai kemampuan kami, tapi kami anak-anaknya sulit untuk membantah karena melihat keteladanan dan perubahan hidup ayah berikut kecintaannya akan gereja yang luar biasa dan nyata. Beliau yang dulu suka berjudi dan sabung ayam serta perokok berat telah berubah total.

Akhirnya kami mengerti, Alkitab adalah Firman Tuhan yang menjadi “Pedoman Hidup” manusia. Sungguh relevant apa yang dikatakan Paulus kepada Timotius, sebagai hamba Tuhan yang muda, dalam  II Tim. 3:15-17

3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

3:17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Dan juga dalam II Tim. 1:15

Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Iman Timotius juga dibentuk dan diturunkan dari nenek dan ibunya.[4] Seperti Timotius, saya menjadi “hamba Alkitab” yaitu hamba Tuhan yang memberitakan FirmanNya berkat keteladanan ayah saya.

Kebiasaan membaca Firman Tuhan kami lanjutkan juga kepada anak-anak kami. Kami menganjur­kan anak-anak kami untuk melakukan Saat Teduh pribadi setiap hari, dan juga berusaha melakukan Mezbah Keluarga bersama-sama walaupun tidak bisa setiap hari. Mezbah Keluarga bersama berbeda dengan saat teduh pribadi.

Kami menempatkan Alkitab sebagai pusat kehidupan kami, sebagai pedoman dan otoritas tertinggi dalam mengambil keputusan. Untuk itu, saya membelikan masing-masing anak satu Alkitab, termasuk anak yang belum bisa membacapun saya belikan yang kecil bergambar. Mengapa? Agar jangan sampai ada kesan dibeda-bedakan, sebaliknya menanamkan rasa memiliki dan bangga serta mencintai Alkitab. Belajar mencintai “buku”nya dulu sebelum mencintai Firman Tuhan. Saya sendiri begitu mencintai Alkitab, sehingga bertahun-tahun saya sekolah Alkitab. Saya senang mengoleksi Alkitab dari berbagai bahasa dan versi, juga dari berbagai bentuk. Dari yang besar sampai yang sekecil ibu jari, saya punya.

Kami mendisiplin dengan menyadarkan bahwa doa dan membaca Firman Tuhan bukan saja keharusan tetapi kebutuhan, seperti bernafas. Awal kami melakukan Saat Teduh ada perasaan terpaksa, akan tetapi lama-lama menjadi terbiasa dan seterusnya sukacita. Bahkan rasanya hilang damai atau ada “something missing” kalau tidak melakukan Saat Teduh satu hari saja. Mirip seperti memakai sepatu baru, awalnya tidak merasa enak, terpaksa, tapi lama-kelamaan biasa dan senang memakai sepatu yang baru itu.

Ada peristiwa lucu. Pada suatu hari, waktu kami sedang asyik nonton TV “Dunia dalam Berita”, tiba-tiba si Benny yang saat itu masih 3 tahun maju ke TV dan menekan tombol “off” sambil bergumam: “Lenungan-lenungan…”(maksudnya renungan-renungan). Terus terang waktu itu saya agak jengkel. Tapi dengan menahan rasa malu, saya tidak berani menghidupkan TV lagi, sebaliknya membenarkan sikap anak kami ini dengan mengambil Alkitab dan buku nyanyian. Hari itu kami memang belum melakukan Mezbah Keluarga. Betapa mengucap syukurnya kami selaku orang tua, telah berhasil mendisiplin anak-anak kami untuk Mezbah Keluarga, dan ini jauh lebih penting dari berita dunia yang saya bisa baca lewat koran atau tanya teman. Ya, ada waktunya kita belajar dari anak-anak, termasuk belajar soal doa dan iman.

Biasanya dalam Mezbah Keluarga, kami “sharing” pokok-pokok doa. Saya terharu pada waktu anak kami yang kedua Geoffrey masih kecil, dia minta doa syafaat buat engkong Liem yang jempolnya sakit. Saya sendiri kurang memperhatikan. Namun pagi sebelumnya waktu saya mengajak Geoffrey main ke rumah engkong Liem, memang jempolnya sedikit luka dan dibalut. Anak pertama kami, Chris, minta didoakan burung betetnya yang sudah hilang dua hari lalu agar bisa kembali beserta rantainya yang bagus. Anehnya, besoknya betet itu kembali masih lengkap dengan rantainya. Seandainya betet tidak kembalipun kami belajar bahwa doa selalu dijawab Allah walaupun tidak selalu dikabulkan. Saya yang hamba Tuhan diajar untuk tidak meremehkan iman dan doa anak-anak.

Bagaimana Kami Memperlakukan Alkitab

Kalau Firman Tuhan diumpamakan sebagai senjata Allah atau pedang Roh, maka harus dipegang dengan kelima jari agar tidak mudah dicuri iblis. Kelima jari itu adalah: kelingking (yang sering kita gunakan untuk mengorek telinga, agar bisa mendengar dengan baik) melambangkan mendengar Firman; jari telunjuk melambangkan membaca; jari tengah (biasanya untuk mencicip makanan) melambangkan mempelajari; jari manis bercincin (mengingatkan hubungan kita dengan kekasih) lambang merenungkan; dan jempol/ibu jari (yang sering kita gunakan untuk menekan tombol “start” pada kendaraan motor) melambangkan melakukan Firman Tuhan. Dengan lambang kelima jari ini kita senantiasa diingatkan bagaimana seharusnya kita memperlakukan Alkitab agar tidak bosan, sebaliknya tertarik dan mendapat Rhema[5], yaitu: mendengarkan; membaca; mempelajari; merenungkan dan melakukan.

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar sajal sebab jika tidak demikian, kamu menipu diri sendiri . (Yakobus 1:22)

Bagaimana Alkitab Memperlakukan Kami

Pertama, Alkitab menyatukan keluarga kami dalam kebersamaan melalui Mezbah Keluarga. Yang penting bukan berapa seringnya tetapi betapa baiknya. Kami memuji Tuhan bersama, berdoa bersama, berdiskusi bersama sekitar Firman Tuhan. Tidak heran, Dr. Pitram Sorokin dari Universitas Havard menemukan melalui survey-nya bahwa hanya satu pasang suami-isteri yang bercerai dari 1015 pasang suami-isteri yang melakukan Mezbah Keluarga. Juga  benar kata-kata hikmat ini:

Family who pray together and play together will stay together.

Kedua, Alkitab merupakan otoritas tertinggi dan obyektif dalam menegur dan menasihati kami. Seringkali baik anak maupun orang tua, tidak mudah menerima nasihat dari orang lain; namun tidak demikian terhadap Firman Tuhan yang berotoritas.

Ketiga, Alkitab yang dibaca kapan saja dan di mana saja membuat  masing-masing kita takut akan Tuhan, sepertinya Ia hadir dan mataNya selalu mengawasi kita. Inilah yang membuat kami mantap melepaskan anak-anak untuk study di manapun. Saya jadi ingat, satu peristiwa waktu saya besoknya akan berangkat study di luar kota; ayah memanggil saya, katanya: “Sini, saya doakan… Ingat kamu sudah dewasa dan mulai besok papah mamah tidak mungkin lagi mengawasimu. Kamu akan bebas melakukan apa saja, dan mungkin bisa melupakan papa mama. Papa cuma pesan satu saja, “kamu jangan lupa ke gereja.” Ayah saya ternyata orang yang bijaksana, mana mungkin saya lupa papa dan mama kalau saya selalu ke gereja, karena di gereja selalu dibacakan Alkitab, “Hai anak-anak, taatilah dan hormatilah orang tuamu di dalam Tuhan…” Lihat begitu ampuhnya Alkitab itu memperlakukan kami.

Keempat, Alkitab memberi saya bekal dan memperlengkapi saya untuk menjadi hamba Tuhan. II Tim. 3:15-17 tertulis:

Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Demikianlah, Alkitab memberi saya hikmat, menuntun saya, memberi manfaat/bahan untuk mengajar, untuk menyatakan/ menemukan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik dalam kebenaran, dan memperlengkapi saya sebagai hamba Tuhan untuk melakukan perbuatan dengan baik.

Dahulu sebelum saya menikah dan berumah tangga sering merasa rendah diri. Dari mana saya yang kecil dan muda ini mendapat wibawa dan bahan yang benar untuk berkhotbah dan berceramah tentang keluarga dan berbagai masalah kehidupan? Alkitablah text book saya dan Alkitablah sebagai otoritas tertinggi untuk membongkar masalah, untuk mengoreksi dan untuk mengajarkan kebenaran.

Lagi-lagi Alkitab, lagi-lagi Alkitab, begitu tekunnya keluarga kami memperlakukan Alkitab, dan sebaliknya betapa hebatnya Alkitab memperlakukan kami.  Benar-benar, Alkitab adalah “Wasiat bagi Keluarga”. Saya tidak kecewa menjadi hamba Tuhan untuk memberitakan Firman Tuhan seumur hidup saya.

Sewaktu Michael Angelo, pelukis dan pemahat terkenal Itali, menanda-tangani kontrak untuk melukis pada kubah gereja yang begitu tinggi, teman kerjanya dengan ragu bertanya: “Engkau jadi menerima pekerjaan ini? Kalau engkau dan aku terpeleset jatuh matilah kita!”. Tetapi Michael Angelo menjawab: “Aku rela mati demi meninggalkan karya yang besar.” Begitu hebatnya komitmen Angelo ini; tetapi apa itu karya yang besar? Seorang filsuf terkenal abad XX, William James menjawab: “Karya yang besar adalah karya yang abadi.” Tapi apa itu yang abadi? Lukisan bisa rusak dan dicuri atau dipalsukan orang. Maka Tuhan Yesus yang akhirnya menjawab:

Langit dan bumi akan lenyap, tetapi FirmanKu yang tinggal tetap. (Luk.16:17)

Saya bersyukur dan saya bangga, karena saya tidak salah pilih menjadi hamba Tuhan yang memberitakan FirmanNya yang kekal dan abadi. Inilah karya yang BESAR.   Amin!


[1] Tanda kepemilikan dan bayar pajak sepeda

[2] Perjanjian Lama & Perjanjian Baru

[3] Wasiat adalah peninggalan berharga dari nenek-moyang, dan sering dikeramatkan

[4] Mungkin ayah Timotius belum Kristen

[5] Rhema yaitu Firman Hidup yang aplikatif, subyektif dan relevant

Membangun Keluarga yang Tak Tergoncangkan, 3.3 out of 5 based on 12 ratings
line
footer
Join Good Neighbour Society to have your own website.