<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Christanday Ministries</title>
	<atom:link href="http://christanday.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://christanday.com</link>
	<description>The ministries of the Christanday family</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 May 2012 04:17:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>Kudus Sempurna Selamanya</title>
		<link>http://christanday.com/597-kudus-sempurna-selamanya/</link>
		<comments>http://christanday.com/597-kudus-sempurna-selamanya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 04:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geoffreychristanday</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>
		<category><![CDATA[Multimedia]]></category>
		<category><![CDATA[Video Message]]></category>
		<category><![CDATA[Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Kekudusan]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[Apa artinya Kudus Sempurna Selamanya? Apa rahasianya? Mengapa penting? Tindakan Iman: Believe It Be It Live It Hold It Share It www.youtube.com/watch?v=D3D7A1B70B156D64]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa artinya Kudus Sempurna Selamanya? Apa rahasianya? Mengapa penting?</p>
<p>Tindakan Iman:</p>
<ul>
<li>Believe It</li>
<li>Be It</li>
<li>Live It</li>
<li>Hold It</li>
<li>Share It</li>
</ul>
<p><span class="youtube">
<object type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" data="http://www.youtube.com/p/D3D7A1B70B156D64?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" >
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/p/D3D7A1B70B156D64?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" />
<param name="allowFullScreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
</object>
</span><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=D3D7A1B70B156D64"><img src="http://img.youtube.com/vi/D3D7A1B70B156D64/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=D3D7A1B70B156D64">www.youtube.com/watch?v=D3D7A1B70B156D64</a></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/597-kudus-sempurna-selamanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selalu Naik dari Kemulian ke Kemulian</title>
		<link>http://christanday.com/595-selalu-naik-dari-kemulian-ke-kemulian/</link>
		<comments>http://christanday.com/595-selalu-naik-dari-kemulian-ke-kemulian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 20:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geoffreychristanday</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>
		<category><![CDATA[Multimedia]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Video Message]]></category>
		<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Berkarya]]></category>
		<category><![CDATA[Holistik]]></category>
		<category><![CDATA[Kehendak Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemenang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[www.youtube.com/watch?v=19A4AFDAA79538A3]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="youtube">
<object type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" data="http://www.youtube.com/p/19A4AFDAA79538A3?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" >
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/p/19A4AFDAA79538A3?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" />
<param name="allowFullScreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
</object>
</span><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=19A4AFDAA79538A3"><img src="http://img.youtube.com/vi/19A4AFDAA79538A3/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=19A4AFDAA79538A3">www.youtube.com/watch?v=19A4AFDAA79538A3</a></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/595-selalu-naik-dari-kemulian-ke-kemulian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Kisah Foto Tangan Berdoa</title>
		<link>http://christanday.com/591-di-balik-kisah-foto-tangan-berdoa/</link>
		<comments>http://christanday.com/591-di-balik-kisah-foto-tangan-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 20:43:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andreaschristanday</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Rekan2 semua, bahwa lukisan Albrecht Durer ini luar biasa; sudah lama saya terkesan dengan gambar tangan ini, bahkan sebelum mendengar kisahnya, sehingga saya sudah mengabadikan dengan mengukirnya di atas sepotong kayu jati tua yang halus ini; ini aseli kayu tanpa polish/vernish. Saya mengukirnya sekitar 20 tahun lalu. Tak heran Mc. Angelo pernah berkata: “Saya rela [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_592" class="wp-caption alignleft" style="width: 221px"><a href="http://christanday.com/files/2011/10/20111007_tangan_berdoa.jpg"><img class="size-full wp-image-592" title="Tangan Berdoa" src="http://christanday.com/files/2011/10/20111007_tangan_berdoa.jpg" alt="Tangan Berdoa by Andreas Christanday" width="211" height="323" /></a><p class="wp-caption-text">Tangan Berdoa Carving by Andreas Christanday</p></div>
<p>Rekan2  semua, bahwa lukisan Albrecht Durer ini luar biasa; sudah lama saya  terkesan dengan gambar tangan ini, bahkan sebelum mendengar kisahnya,  sehingga saya sudah mengabadikan dengan mengukirnya di atas sepotong  kayu jati tua yang halus ini; ini aseli kayu tanpa polish/vernish. Saya  mengukirnya sekitar 20 tahun lalu.</p>
<p>Tak  heran Mc. Angelo pernah berkata: “Saya rela mati demi meninggalkan  karya yang besar” dan William James berkata: “Kalau anda mau mati  meninggalkan karya yang besar tinggalkanlah karya yang abadi.” Tetapi  apa itu yang abadi? Datanglah Yesus yang bersabda: “Langit dan bumi akan  lenyap, FirmanKU tinggal tetap.” Jadi hai hamba2 Tuhan, kalau kalian  sampai mati memberitakan Firman Tuhan, kalian lebih “hebat” daripada Mc.  Angelo dan filsuf modern William James.</p>
<p><strong>Di Balik Kisah Foto Tangan Berdoa</strong></p>
<p>Di  sebuah desa kecil dekat Nuremberg, Jerman, di abad 15, hiduplah sebuah  keluarga dgn anak-anaknya yg berjumlah 18. Ya, delapan belas! Sang ayah,  seorang pedagang emas, bekerja hampir delapan belas jam sehari di  tokonya utk menghidupi keluarganya. Apa saja yg berguna dan menghasilkan  uang ia kerjakan.</p>
<p>Walaupun  kondisi keluarga itu senin-kemis, nyaris tanpa harapan, dua anak  sulungnya mempunyai cita-cita tinggi. Albrecht Durer dan adiknya Albert  Durer bercita-cita suatu saat kelak mereka akan menjadi seniman  terkenal, kuliah di akademi tinggi di Nuremberg, walau pun mereka tahu ayah mereka secara finansial tidak akan mampu membiayai kuliah di sana.</p>
<p>Setelah  diskusi yg panjang di suatu malam di tempat tidur mereka yg penuh  sesak, kedua anak laki-laki tertua ini akhirnya membuat kesepakatan.  Mereka akan melemparkan sebuah koin. Yg menang, dialah yg melanjutkan  studi ke akademi utk mengejar impian menjadi seniman terkenal. Yg kalah  akan tetap tinggal di kampung halaman, bekerja di pertambangan di dekat  rumah mereka, dan dgn penghasilannya dari bekerja itu, membiayai kuliah  saudaranya yg akan menjadi seniman hebat. Diharapkan, setelah kuliah  empat tahun, sang seniman besar itu sudah bisa kembali dan membiayai  adik-adiknya yg lain.</p>
<p>Mereka  melemparkan koin. Hasilnya? Albrecht Durer memenangkan undian dan  kuliah ke akademi di Nuremberg. Albert tinggal di kampung dan bekerja  sebagai buruh tambang, sebuah pekerjaan yg cukup berbahaya kala itu.  Selama empat tahun ke depan, ia membiayai saudaranya yg menempuh  pendidikan di akademi.</p>
<p><a href="http://christanday.com/files/2011/10/20111007_albrecht_praying_hand.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-593" title="Praying Hand by Albrecht" src="http://christanday.com/files/2011/10/20111007_albrecht_praying_hand.jpg" alt="" width="332" height="475" /></a>Di  akademi, Albrecht ternyata menjadi bintang. Lukisan-lukisannya, ukiran  kayunya dan lukisan minyaknya jauh lebih baik daripada karya para  profesornya. Dan pada saat ia lulus, ia mendapat cukup banyak uang atas  karya-karyanya.</p>
<p>Ketika  seniman muda itu kemudian kembali ke desanya, keluarga Durer mengadakan  pesta makan malam di halaman rumah mereka utk merayakan kepulangan  Albrecht. Setelah makan malam yg panjang dan berkesan, diselingi dgn  musik dan tawa, Albrecht bangkit dari posisi terhormat di ujung meja utk  minum bersulang bagi adik tercintanya, atas tahun-tahun pengorbanan yg  memungkinkan Albrecht memenuhi ambisinya. Di akhir pidatonya, Albrecht  berkata, &#8220;Sekarang, Albert, saudaraku yg sangat disayangi Tuhan,  giliranmu lah. Sekarang engkau sudah punya kesempatan berangkat ke  akademi di Nuremberg utk mengejar impianmu, dan saya akan mengurus semua  yg kau perlukan.&#8221;</p>
<p>Semua  kepala berpaling ke ujung meja tempat Albert duduk. Air mata mengalir  di wajahnya yg pucat, menggelengkan kepalanya sementara ia menangis dan  berulang berkata, &#8220;Tidak &#8230; tidak .. tidak &#8230;. tidak. &#8221; Albert bangkit  dan menyeka air mata dari pipinya. Dia melirik ke meja panjang di  wajah-wajah yg dicintainya, dan kemudian, memegang tangannya dekat dgn  pipi kanan, ia berkata pelan, &#8220;Tidak, saudaraku, saya tidak bisa pergi  ke Nuremberg. Sudah terlambat utk saya. Lihatlah &#8230; lihat apa yg saya  dapatkan selama empat tahun bekerja di tambang. Tulang di setiap jari  saya telah pernah hancur setidaknya sekali!. Dan akhir-akhir ini saya  telah menderita rheumatoid begitu parah di tangan kanan saya, sehingga  utk memegang gelas dan bersulang kembali utk mu pun aku tak bisa.  Apalagi utk memegang kuas dan melukis garis-garis halus di kanvas. Bagi  saya itu sudah terlambat.&#8221;</p>
<p>Kini,  hampir lima abad sudah berlalu. Ribuan lukisan potret dan karya lainnya  dari Albrecht Durer telah beredar dan menghiasi banyak dinding dan  ruang di seluruh dunia. Dan hampir dapat dipastikan, sebagian besar  orang pernah melihat, bahkan mungkin memiliki reproduksi dari salah satu  lukisannya yg sangat terkenal, yakni gambar yg diberi judul: <em>The Praying Hands</em>. Tangan yg berdoa.</p>
<p><em>Ada sejarah di balik gambar itu.</em></p>
<p>Suatu  hari, utk memberi penghormatan kpd Albert atas semua yg telah  dikorbankannya, Albrecht Durer dgn susah payah menghela tangan adiknya  itu, meluruskan jari-jarinya dan kemudian melukisnya. Ia memberi judul  lukisan itu &#8220;<em>Hands</em>,&#8221; tetapi seluruh dunia melihat lukisan itu jauh dari sekadar &#8216;<em>Hands</em>&#8216; melainkan suatu persembahan cinta yg tulus, tangan yg berkorban dan memohon. Itu lah sebabnya ia lebih terkenal dengan judul &#8220;<em>The Praying Hands</em>.&#8221; Tangan yg bekerja, berkorban demi mewujudkan sebuah cita-cita dan doa. Itu lah Tangan yg Berdoa.</p>
<p><em>Selamat pagi Sahabat Etos. Bigger! Higher! Better!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/591-di-balik-kisah-foto-tangan-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Post Power Syndrome; Apakah itu?</title>
		<link>http://christanday.com/585-post-power-syndrome-apakah-itu/</link>
		<comments>http://christanday.com/585-post-power-syndrome-apakah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 15:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andreaschristanday</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Post Power Syndrome adalah “kegelisahan pasca kehilangan kekuasaan” yang sadar atau tidak sering dialami oleh orang-orang dewasa yang telah memasuki masa purna tugas, karena pensiun, emiritus atau karena sakit. PPS ini makin nampak kalau dahulunya orang ini cukup aktif dan populer serta punya kedudukan; dan terlebih kalau ia turun jabatan atau diturunkan justeru dalam usia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Post Power Syndrome adalah “kegelisahan pasca kehilangan kekuasaan” yang sadar atau tidak sering dialami oleh orang-orang dewasa yang telah memasuki masa purna tugas, karena pensiun, emiritus atau karena sakit. PPS ini makin nampak kalau dahulunya orang ini cukup aktif dan populer serta punya kedudukan; dan terlebih kalau ia turun jabatan atau diturunkan justeru dalam<br />
usia yang masih relatif muda, karena ia merasa mampu tapi disingkirkan. Ia takut kehilangan kedudukan, pengaruh dan popularitasnya; sehingga di mana ada kesempatan ia berusaha untuk tampil dan membuktikan diri. Di bawah ini adalah beberapa contoh kasus:</p>
<p>Kasus 1</p>
<p>Marlin (nama fiktif), akhir-akhir ini banyak berulah, dan ulahnya itu menimbulkan berbagai<br />
reaksi dari banyak orang. Ada yang menggosipkan dia, ada yang bosan dan jengkel dengan dia;<br />
bahkan ada yang menganggapnya “over acting”. Pasalnya? Ia kan sudah bukan majelis gereja<br />
lagi; di samping faktor usianya yang sudah “over seket”, ia sudah dua periode berturut menjadi<br />
majelis; mengapa waktu kebaktian Minggu ia datang, masih lengkap dengan berdasi menyambut<br />
setiap tamu yang datang, dan nampaknya ia kenal dengan semua orang dari gayanya berbicara<br />
kepada mereka; repotnya sampai di dalam gedung gereja bahkan pada saat ibadahpun ia masih<br />
terus berbicara. Bicaranya cukup keras sehingga orang di sekitarnya merasa terganggu. Entah<br />
apa saja yang dibicarakannya; kata teman, ia suka mengkritik dan mencela; liturgosnya begini,<br />
begitu; singersnya pakaiannya tak sopan; pemusiknya main kasar dan volumenya terlalu kuat;<br />
bahkan pengkhotbahnyapun tidak luput dari kritikannya, terlalu bertele-tele, kurang Alkitabiah<br />
dan tidak berbobot. Kemudian ia membanding&#8212;kan dengan dirinya sewaktu masih sebagai<br />
majelis, ia tidak sembarangan memilih pengkhotbah, dst. Bukan pada hari Minggu saja ia datang<br />
ke gereja, tapi hampir dalam setiap kegiatan dia hadir walaupun juga bukan panitia. Pada waktu<br />
ada rapat majelis, ia sering “nguping” di dekat jendela; dan tidak sungkan, pada saat “break”<br />
makan, iapun ikut “nimbrung” makan sambil terus bicara. Wah, belum lagi kalau ada acara<br />
kesaksian jemaat, orang-orang pada was-was kalau melihat ia berdiri. Pasalnya? Pasti bertele-<br />
tele dan membosankan karena mengulang-ulang cerita yang sama, yang itu-itu juga. Katanya<br />
sih ia berusaha mau menahan diri untuk memberi kesempatan yang lain; dengan alasan sembari<br />
menunggu yang lain, iapun bersaksi. Yang sebenarnya bukan kesaksian tetapi lebih banyak<br />
pamer masa lalu dan jasa-jasanya, sisanya adalah mengkritik dan mencela generasi penerus. Yah,<br />
itulah pak Marlin.</p>
<p>Kasus 2</p>
<p>Siapa yang tidak sebal bila memiliki ayah yang sudah pensiun dan menganggur, tetapi bila<br />
berbicara selalu yang muluk-muluk. Ayahnya tak henti-hentinya bercerita tentang betapa<br />
hebatnya dia dulu ketika menjabat direktur utama dari sebuah perusahaan garmen di Surabaya.</p>
<p>Seakan-akan dia tidak pernah sadar, bahwa cerita yang selalu diulang-ulangnya sudah puluhan<br />
kali keluar masuk telinga Rudi (nama fiktif). Bila ditegur, ayahnya tidak bisa menerima dan<br />
menganggap Rudi belum berpengalaman atau masih bau kencur.</p>
<p>Bila teman-teman Rudi main ke rumah, ayahnya selalu memberikan &#8220;kuliah&#8221; kepada teman-<br />
temannya supaya mereka mencontoh apa yang sudah dikerjakan ayahnya. Bahkan bukan hanya<br />
di rumah, di lingkungan tetanggapun, ayah Rudi dikenal sebagai &#8220;pengobral&#8221; cerita masa lalu<br />
yang sudah usang. Akibatnya, bukan hanya Rudi saja yang jengkel, tetapi tetangganya yang<br />
sudah bosan mendengar cerita ayahnya juga langsung menyingkir begitu melihat ayah Rudi<br />
datang.</p>
<p>Kasus 3</p>
<p>Pak Trimo (nama fiktif) memang sudah tua (lebih 80 tahun) tapi fisiknya masih kuat,<br />
sesekali saja ia masuk Rumah Sakit karena sesak nafas. Di Rumah Sakit rekan-rekan yang<br />
mengunjunginya sering kecele, karena ia tidak ada di kamar, harus dicari dulu. Ternyata ia suka<br />
keliling ke kamar-kamar lain dan suka guyon sama para perawat. Ia banyak cerita tentang masa<br />
lalunya yang penuh pengalaman; ia berjasa dalam mendirikan lembaga ini lembaga itu; ia juga<br />
bercerita tentang keberhasilannya dalam usaha bisnisnya. Setiap bertemu pasien atau perawat<br />
yang baru, ia tidak bosan-bosan menceritakan kisah yang sama.</p>
<p>Kasus 4</p>
<p>Saya sering merasa terganggu oleh sikap beberapa anggota keluarga saya, terutama om (65)<br />
dan sepupu perempuan (50). Padahal mereka adalah orang-orang sukses, tak kekurangan secara<br />
materi.</p>
<p>Ketika masih bekerja, mereka menduduki posisi yang cukup tinggi di kantornya. Om memang<br />
sangat pandai, pernah menjadi brand manager di beberapa perusahaan consumer product untuk<br />
waktu yang lama. Sepupu juga sukses, terakhir bekerja menjadi PR manager di Surabaya.</p>
<p>Sekarang om sudah lama pensiun dan sepupu juga tidak bekerja lagi karena harus ikut suami ke<br />
Jakarta. Saya melihat rasa bangga mereka terhadap diri masih tersisa. Mereka terus merasa hebat<br />
dengan dirinya, sering bercerita mengenai masa-masa hebat mereka dan cenderung mengkritik<br />
dan menganggap orang lain tidak sehebat mereka.</p>
<p>Meski tidak serumah, tapi kami sering bertemu dalam pertemuan keluarga. Nah, di situ baru<br />
rasanya saya terganggu karena mereka terus-menerus berulah seperti itu. Apakah ini yang<br />
disebut post power syndrome? Apakah itu pasti terjadi pada orang-orang yang pernah memiliki<br />
kedudukan yang tinggi, bergengsi dan membanggakan? Apa yang bisa dilakukan untuk<br />
menanggapi perilaku seperti demikian?</p>
<p>Itulah antara lain gejala orang yang mengalami “Post Power Syndrome”; tetapi mengapa bisa<br />
demikian? Dan bagaimana mengatasinya agar tidak meresahkan orang?</p>
<p>Faktor Penyebab</p>
<p>Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya post-power syndrome. Pensiun dini dan PHK<br />
adalah salah satu dari faktor tersebut. Bila orang yang mendapatkan pensiun dini tidak bisa<br />
menerima keadaan bahwa tenaganya sudah tidak dipakai lagi, walaupun menurutnya dirinya<br />
masih bisa memberi kontribusi yang signifikan kepada perusahaan, post-power syndrom akan</p>
<p>dengan mudah menyerang. Apalagi bila ternyata usianya sudah termasuk usia kurang produktif<br />
dan ditolak ketika melamar di perusahaan lain, post-power syndrome yang menyerangnya akan<br />
semakin parah.</p>
<p>Kejadian traumatik juga menjadi salah satu penyebab terjadinya post-power syndrome. Misalnya<br />
kecelakaan yang dialami oleh seorang pelari, yang menyebabkan kakinya harus diamputasi.<br />
Bila dia tidak mampu menerima keadaan yang dialaminya, dia akan mengalami post-power<br />
syndrome. Dan jika terus berlarut-larut, tidak mustahil gangguan jiwa yang lebih berat akan<br />
dideritanya.</p>
<p>Post-power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia dan pensiun<br />
dari pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang berhasil melalui fase ini dengan cepat dan<br />
dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, dimana<br />
seseorang tidak mampu menerima kenyataan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang<br />
terus mendesak, dan dirinya adalah satu-satunya penopang hidup keluarga, resiko terjadinya<br />
post-power syndrome yang berat semakin besar.</p>
<p>Beberapa kasus post-power syndrome yang berat diikuti oleh gangguan jiwa seperti tidak<br />
bisa berpikir rasional dalam jangka waktu tertentu, depresi yang berat, atau pada pribadi-<br />
pribadi introfert (tertutup) terjadi psikosomatik (sakit yang disebabkan beban emosi yang tidak<br />
tersalurkan) yang parah.</p>
<p>Pengertian dan gejala</p>
<p>Secara umum, orang yang mengalami post power syndrome sebenarnya diliputi rasa kecewa,<br />
bingung, kesepian, ragu-ragu, khawatir, takut, putus asa, ketergantungan, kekosongan, dan<br />
kerinduan. Selain itu, harga dirinya juga menurun, merasa tidak lagi dihormati dan terpisah dari<br />
kelompok. Semua ini biasanya tidak begitu disadari oleh yang bersangkutan.</p>
<p>Gejala ini umumnya terjadi pada orang yang tadinya mempunyai kekuasaan atau jabatan dan<br />
ketika jabatan itu sudah tak lagi dipegang, muncullah berbagai gejala psikologis atau emosional<br />
yang sifatnya kurang positif.</p>
<p>Beberapa gejala biasanya dapat dibagi ke dalam 3 ranah.</p>
<ol>
<li>Gejala fisik, misalnya tampak kuyu, terlihat lebih tua, tubuh lebih lemah, sakit-sakitan.</li>
<li>Gejala emosi, misalnya mudah tersinggung, pemurung, senang menarik diri dari pergaulan, atau sebaliknya cepat marah untuk hal-hal kecil, tak suka disaingi dan tak suka dibantah.</li>
<li>Gejala perilaku, misalnya menjadi pendiam, pemalu, atau justru senang berbicara mengenai kehebatan dirinya di masa lalu, senang menyerang pendapat orang, mencela, mengkritik, tak mau</li>
</ol>
<p>kalah, dan menunjukkan kemarahan baik di rumah maupun di tempat umum.</p>
<p>Post power syndrome banyak dialami oleh mereka yang baru saja menjalani masa pensiun atau<br />
emiritus. Pensiun merupakan masa seseorang secara formal berhenti dari tugasnya selama ini,<br />
bisa merupakan pilihan atau keharusan.</p>
<p>Para pensiunan terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang bahagia karena dapat menyelesaikan<br />
tugas dan pengabdiannya dengan lancar. Sebaliknya, ada juga yang mengalami ketidakpuasan<br />
atau kekecewaan akan kehidupannya.</p>
<p>Sindrom ini bisa dialami oleh pria maupun wanita, tergantung dari berbagai faktor, seperti ciri kepribadian, penghayatan terhadap makna dan tujuan kerja, pengalaman selama bekerja,<br />
pengaruh lingkungan keluarga dan budaya. Berbagai faktor tersebut menentukan keberhasilan<br />
individu dalam menyesuaikan diri menghadapi masa pensiun. Post power syndrome merupakan<br />
tanda kurang berhasilnya seseorang menyesuaikan diri.</p>
<p>Masa pensiun bisa memengaruhi konsep diri karena pensiun menyebabkan seseorang kehilangan<br />
peran, status, dan identitasnya dalam masyarakat menjadi berubah sehingga dapat menurunkan<br />
harga diri. Bila anggota keluarga memandang pensiunan sebagai orang yang sudah tidak<br />
berharga lagi dan memperlakukan mereka secara buruk, bukan tak mungkin juga akan memicu<br />
munculnya sindrom ini.</p>
<p>Beberapa ciri kepribadian yang rentan terhadap post power syndrome di antaranya adalah<br />
mereka yang senang dihargai dan dihormati orang lain, suka mengatur, ”gila jabatan”, menuntut<br />
agar permintaannya selalu dituruti, dan suka dilayani orang lain.</p>
<p>Selain itu, ada pula mereka yang sebenarnya kurang kuat kepercayaan dirinya sehingga selalu<br />
membutuhkan legitimasi dari orang lain.</p>
<p>Cara Mengatasinya</p>
<p>Ada dua faktor untuk mengatasinya, yaitu dari eksternal, jika lingkungan bisa menerima<br />
keberadaan pasien, maka penderita Post Power Syndrome akan sangat terbantu. Tetapi yang<br />
lebih penting adalah faktor internal dalam dirinya sendiri.</p>
<p>Penyembuhan internal oleh penderita Post Power Syndrome, mencakup:</p>
<ol>
<li> Menerima dengan lapang dada/legowo apa yang sekarang dihadapinya. Dalam hal ini, ia harus realistis kalau sekarang ia tidak sekaya dulu; tidak sesibuk dan seterkenal dulu.</li>
<li>Jangan mempunyai angan-angan yang muluk-muluk. Berencana jangka pendek aja. Nanti<br />
malah menjadi skeptis kalau nggak kesampaian. Toh banyak teman yang seperti itu, dan<br />
memang harus demikian.</li>
<li>Membuat agenda kecil untuk menghabiskan waktu, sesuai hobby. Jadi, disarankan<br />
penderita Post Power Syndrome selalu aktif ada kegiatan, walaupun itu bukan sesuatu<br />
yang menghasilkan uang.</li>
<li>Berusahalah untuk tidak mencapai puncak kejayaan usaha atau pekerjaan atau kekuasaan<br />
terlalu cepat; usahakan sesantai mungkin.</li>
<li>Pahamilah bahwa gejala Post Power Syndrome adalah penyakit temporer yang hanya<br />
menghinggapi anda beberapa saat, karena masa transisi. Jadi ini bukan alasan yang<br />
tepat untuk kehilangan harga diri anda? Sementara keluarga anda masih mengharapkan<br />
kepribadian anda?</li>
</ol>
<p>Faktor Eksternal yang menolong penderita Post Power Syndrome, mencakup:</p>
<ol>
<li>Menghadapi orang yang sudah telanjur menderita dengan kesabaran yang luar biasa.<br />
Sebagai pasangan atau anggota keluarga yang serumah, hendaknya memahami dulu<br />
bahwa penderita tidak sepenuhnya menyadari gejala yang dia alami. Tapi dengan<br />
melawan atau mencoba menyadarkan mereka secara langsung juga tidak bijak.</li>
<li>Kalau perlu meminta pihak ketiga, yaitu seseorang yang cukup mendapat respek dari<br />
yang bersangkutan, untuk memberikan nasihat, atau melalui doa bersama.</li>
<li>Melalui kegiatan yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhan, dia bisa belajar<br />
memahami bahwa ternyata kekuasaan itu tidak abadi.</li>
<li>Sebaiknya kita belajar menerima dia apa adanya, tidak merespons kemarahan dengan<br />
hal yang sama karena jengkel. Lebih baik menyarankan agar yang bersangkutan<br />
diusahakan untuk mempunyai berbagai aktivitas yang dapat menyalurkan emosi<br />
negatif atau ketidakpuasan hidupnya secara lebih konstruktif, seperti mengikuti<br />
kegiatan sosial yang menarik, diminta memberikan ceramah dengan topik yang<br />
dikuasainya ketika ada acara keluarga, mengajar keterampilan tertentu kepada orang<br />
yang memerlukan, membaca buku, menjalani hobi berkebun, dan berolahraga.</li>
</ol>
<p>Penanganan</p>
<p>Bila seorang penderita post-power syndrome dapat menemukan aktualisasi diri yang baru, hal<br />
itu akan sangat menolong baginya. Misalnya seorang manajer yang terkena PHK, tetapi bisa<br />
beraktualisasi diri di bisnis baru yang dirintisnya (agrobisnis misalnya), ia akan terhindar dari<br />
resiko terserang post-power syndrome.</p>
<p>Di samping itu, dukungan lingkungan terdekat, dalam hal ini keluarga, dan kematangan emosi<br />
seseorang sangat berpengaruh pada terlewatinya fase post-power syndrome ini. Seseorang yang<br />
bisa menerima kenyataan dan keberadaannya dengan baik akan lebih mampu melewati fase ini<br />
dibanding dengan seseorang yang memiliki konflik emosi.</p>
<p>Dukungan dan pengertian dari orang-orang tercinta sangat membantu penderita. Bila penderita<br />
melihat bahwa orang-orang yang dicintainya memahami dan mengerti tentang keadaan dirinya,<br />
atau ketidak mampuannya mencari nafkah, ia akan lebih bisa menerima keadaannya dan lebih<br />
mampu berpikir secara dingin. Hal itu akan mengembalikan kreativitas dan produktifitasnya,<br />
meskipun tidak sehebat dulu. Akan sangat berbeda hasilnya jika keluarga malah mengejek dan<br />
selalu menyindirnya, menggerutu, bahkan mengolok-oloknya.</p>
<p>Post-power syndrome menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Kematangan emosi<br />
dan kehangatan keluarga sangat membantu untuk melewati fase ini. Dan satu cara untuk<br />
mempersiapkan diri menghadapi post-power syndrome adalah gemar menabung dan hidup<br />
sederhana. Karena bila post-power syndrome menyerang, sementara penderita sudah terbiasa<br />
hidup mewah, akibatnya akan lebih parah.</p>
<p>Contoh dan ayat-ayat dalam Alkitab tentang Post Power Syndrome</p>
<p>Barangkali kisah raja Saul yang sangat iri dan benci terhadap Daud, adalah akibat Post Power Syndrome yang dialaminya. Kisah ini dapat dibaca dalam I Samuel 18.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/585-post-power-syndrome-apakah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Yang Tak Tergoncangkan</title>
		<link>http://christanday.com/563-generasi-yang-tak-tergoncangkan/</link>
		<comments>http://christanday.com/563-generasi-yang-tak-tergoncangkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2011 07:54:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=563</guid>
		<description><![CDATA[www.youtube.com/watch?v=8617A8FA423F46B9 Harus dengarkan biar iman anda tidak tergoncangkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="youtube">
<object type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" data="http://www.youtube.com/p/8617A8FA423F46B9?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" >
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/p/8617A8FA423F46B9?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" />
<param name="allowFullScreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
</object>
</span><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=8617A8FA423F46B9"><img src="http://img.youtube.com/vi/8617A8FA423F46B9/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=8617A8FA423F46B9">www.youtube.com/watch?v=8617A8FA423F46B9</a></p></p>
<p>Harus dengarkan biar iman anda tidak tergoncangkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/563-generasi-yang-tak-tergoncangkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Satu dengan Allah</title>
		<link>http://christanday.com/540-menjadi-satu-dengan-allah/</link>
		<comments>http://christanday.com/540-menjadi-satu-dengan-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 03:39:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>
		<category><![CDATA[Multimedia]]></category>
		<category><![CDATA[Video Message]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[www.youtube.com/watch?v=05DA117FB87464CA]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="youtube">
<object type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" data="http://www.youtube.com/p/05DA117FB87464CA?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" >
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/p/05DA117FB87464CA?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" />
<param name="allowFullScreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
</object>
</span><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=05DA117FB87464CA"><img src="http://img.youtube.com/vi/05DA117FB87464CA/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=05DA117FB87464CA">www.youtube.com/watch?v=05DA117FB87464CA</a></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/540-menjadi-satu-dengan-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contoh Perkabaran Injil Praktis 2</title>
		<link>http://christanday.com/575-contoh-perkabaran-injil-2/</link>
		<comments>http://christanday.com/575-contoh-perkabaran-injil-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 09:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[www.youtube.com/watch?v=E306778D238052E0]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="youtube">
<object type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" data="http://www.youtube.com/p/E306778D238052E0?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" >
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/p/E306778D238052E0?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" />
<param name="allowFullScreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
</object>
</span><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=E306778D238052E0"><img src="http://img.youtube.com/vi/E306778D238052E0/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=E306778D238052E0">www.youtube.com/watch?v=E306778D238052E0</a></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/575-contoh-perkabaran-injil-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keluarga yang Tak Tergoncangkan</title>
		<link>http://christanday.com/565-keluarga-yang-tak-tergoncangkan/</link>
		<comments>http://christanday.com/565-keluarga-yang-tak-tergoncangkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 09:03:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Membangun Keluarga yang Tak Tergoncangkan]]></category>
		<category><![CDATA[Multimedia]]></category>
		<category><![CDATA[Video Message]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[www.youtube.com/watch?v=453AF92CC2D83C31]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="youtube">
<object type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" data="http://www.youtube.com/p/453AF92CC2D83C31?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" >
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/p/453AF92CC2D83C31?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" />
<param name="allowFullScreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
</object>
</span><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=453AF92CC2D83C31"><img src="http://img.youtube.com/vi/453AF92CC2D83C31/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=453AF92CC2D83C31">www.youtube.com/watch?v=453AF92CC2D83C31</a></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/565-keluarga-yang-tak-tergoncangkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>He Loves Us</title>
		<link>http://christanday.com/460-he-loves-us/</link>
		<comments>http://christanday.com/460-he-loves-us/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 00:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geoffreychristanday</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>
		<category><![CDATA[Multimedia]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Video Message]]></category>
		<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[Holistik]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Pujian dan Penyembahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[www.youtube.com/watch?v=AA138CC9E36B375B Outline: Understanding God&#8217;s Love Many people don&#8217;t realize God&#8217;s love. It is not easy for the receiver of love to understand love until he or she becomes the giver of love. God loves us and wants us back like a father waiting for the prodigal son to come home God is going after us [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="youtube">
<object type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" data="http://www.youtube.com/p/AA138CC9E36B375B?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" >
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/p/AA138CC9E36B375B?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" />
<param name="allowFullScreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
</object>
</span><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=AA138CC9E36B375B"><img src="http://img.youtube.com/vi/AA138CC9E36B375B/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=AA138CC9E36B375B">www.youtube.com/watch?v=AA138CC9E36B375B</a></p></p>
<p>Outline:</p>
<ul>
<li>Understanding God&#8217;s Love
<ul>
<li>Many people don&#8217;t realize God&#8217;s love. It is not easy for the receiver of love to understand love until he or she becomes the giver of love.</li>
<li>God loves us and wants us back like a father waiting for the prodigal son to come home</li>
<li>God is going after us like a man going after his unfaithful wife who has cheated on him</li>
</ul>
</li>
<li>The Greatest Commandments
<ul>
<li>The Lord is One. When you fall in love with God, He becomes everything. Serving only one master.</li>
<li>Loving God is an emotional, rational, physical and spiritual experience.</li>
<li>Praise and Worship are our love songs</li>
<li>We need to nurture and maximize the four pillars of love. Don&#8217;t serve God with half your brain!</li>
<li>Loving what God loves. If you are happy, I&#8217;m happy.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>Direkam di <a href="http://ifgfhouston.org/">IFGF GISI Houston, TX</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/460-he-loves-us/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contoh-2 PI Praktis</title>
		<link>http://christanday.com/570-contoh-perkabaran-injil/</link>
		<comments>http://christanday.com/570-contoh-perkabaran-injil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Mar 2011 09:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[All Contents]]></category>
		<category><![CDATA[Multimedia]]></category>
		<category><![CDATA[Video Message]]></category>
		<category><![CDATA[Perkabaran Injil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://christanday.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[www.youtube.com/watch?v=8DBAA8E595A343E8]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="youtube">
<object type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" data="http://www.youtube.com/p/8DBAA8E595A343E8?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" >
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/p/8DBAA8E595A343E8?color1=3a3a3a&amp;color2=999999&amp;border=0&amp;fs=1&amp;hl=en&amp;loop=&amp;showinfo=0&amp;iv_load_policy=3&amp;showsearch=0&amp;rel=1" />
<param name="allowFullScreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
</object>
</span><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=8DBAA8E595A343E8"><img src="http://img.youtube.com/vi/8DBAA8E595A343E8/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p><p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=8DBAA8E595A343E8">www.youtube.com/watch?v=8DBAA8E595A343E8</a></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://christanday.com/570-contoh-perkabaran-injil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

