line line

Selalu Naik dari Kemulian ke Kemulian

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 3.0/5 (4 votes cast)

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Di Balik Kisah Foto Tangan Berdoa

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 3.6/5 (5 votes cast)
Tangan Berdoa by Andreas Christanday

Tangan Berdoa Carving by Andreas Christanday

Rekan2 semua, bahwa lukisan Albrecht Durer ini luar biasa; sudah lama saya terkesan dengan gambar tangan ini, bahkan sebelum mendengar kisahnya, sehingga saya sudah mengabadikan dengan mengukirnya di atas sepotong kayu jati tua yang halus ini; ini aseli kayu tanpa polish/vernish. Saya mengukirnya sekitar 20 tahun lalu.

Tak heran Mc. Angelo pernah berkata: “Saya rela mati demi meninggalkan karya yang besar” dan William James berkata: “Kalau anda mau mati meninggalkan karya yang besar tinggalkanlah karya yang abadi.” Tetapi apa itu yang abadi? Datanglah Yesus yang bersabda: “Langit dan bumi akan lenyap, FirmanKU tinggal tetap.” Jadi hai hamba2 Tuhan, kalau kalian sampai mati memberitakan Firman Tuhan, kalian lebih “hebat” daripada Mc. Angelo dan filsuf modern William James.

Di Balik Kisah Foto Tangan Berdoa

Di sebuah desa kecil dekat Nuremberg, Jerman, di abad 15, hiduplah sebuah keluarga dgn anak-anaknya yg berjumlah 18. Ya, delapan belas! Sang ayah, seorang pedagang emas, bekerja hampir delapan belas jam sehari di tokonya utk menghidupi keluarganya. Apa saja yg berguna dan menghasilkan uang ia kerjakan.

Walaupun kondisi keluarga itu senin-kemis, nyaris tanpa harapan, dua anak sulungnya mempunyai cita-cita tinggi. Albrecht Durer dan adiknya Albert Durer bercita-cita suatu saat kelak mereka akan menjadi seniman terkenal, kuliah di akademi tinggi di Nuremberg, walau pun mereka tahu ayah mereka secara finansial tidak akan mampu membiayai kuliah di sana.

Setelah diskusi yg panjang di suatu malam di tempat tidur mereka yg penuh sesak, kedua anak laki-laki tertua ini akhirnya membuat kesepakatan. Mereka akan melemparkan sebuah koin. Yg menang, dialah yg melanjutkan studi ke akademi utk mengejar impian menjadi seniman terkenal. Yg kalah akan tetap tinggal di kampung halaman, bekerja di pertambangan di dekat rumah mereka, dan dgn penghasilannya dari bekerja itu, membiayai kuliah saudaranya yg akan menjadi seniman hebat. Diharapkan, setelah kuliah empat tahun, sang seniman besar itu sudah bisa kembali dan membiayai adik-adiknya yg lain.

Mereka melemparkan koin. Hasilnya? Albrecht Durer memenangkan undian dan kuliah ke akademi di Nuremberg. Albert tinggal di kampung dan bekerja sebagai buruh tambang, sebuah pekerjaan yg cukup berbahaya kala itu. Selama empat tahun ke depan, ia membiayai saudaranya yg menempuh pendidikan di akademi.

Di akademi, Albrecht ternyata menjadi bintang. Lukisan-lukisannya, ukiran kayunya dan lukisan minyaknya jauh lebih baik daripada karya para profesornya. Dan pada saat ia lulus, ia mendapat cukup banyak uang atas karya-karyanya.

Ketika seniman muda itu kemudian kembali ke desanya, keluarga Durer mengadakan pesta makan malam di halaman rumah mereka utk merayakan kepulangan Albrecht. Setelah makan malam yg panjang dan berkesan, diselingi dgn musik dan tawa, Albrecht bangkit dari posisi terhormat di ujung meja utk minum bersulang bagi adik tercintanya, atas tahun-tahun pengorbanan yg memungkinkan Albrecht memenuhi ambisinya. Di akhir pidatonya, Albrecht berkata, “Sekarang, Albert, saudaraku yg sangat disayangi Tuhan, giliranmu lah. Sekarang engkau sudah punya kesempatan berangkat ke akademi di Nuremberg utk mengejar impianmu, dan saya akan mengurus semua yg kau perlukan.”

Semua kepala berpaling ke ujung meja tempat Albert duduk. Air mata mengalir di wajahnya yg pucat, menggelengkan kepalanya sementara ia menangis dan berulang berkata, “Tidak … tidak .. tidak …. tidak. ” Albert bangkit dan menyeka air mata dari pipinya. Dia melirik ke meja panjang di wajah-wajah yg dicintainya, dan kemudian, memegang tangannya dekat dgn pipi kanan, ia berkata pelan, “Tidak, saudaraku, saya tidak bisa pergi ke Nuremberg. Sudah terlambat utk saya. Lihatlah … lihat apa yg saya dapatkan selama empat tahun bekerja di tambang. Tulang di setiap jari saya telah pernah hancur setidaknya sekali!. Dan akhir-akhir ini saya telah menderita rheumatoid begitu parah di tangan kanan saya, sehingga utk memegang gelas dan bersulang kembali utk mu pun aku tak bisa. Apalagi utk memegang kuas dan melukis garis-garis halus di kanvas. Bagi saya itu sudah terlambat.”

Kini, hampir lima abad sudah berlalu. Ribuan lukisan potret dan karya lainnya dari Albrecht Durer telah beredar dan menghiasi banyak dinding dan ruang di seluruh dunia. Dan hampir dapat dipastikan, sebagian besar orang pernah melihat, bahkan mungkin memiliki reproduksi dari salah satu lukisannya yg sangat terkenal, yakni gambar yg diberi judul: The Praying Hands. Tangan yg berdoa.

Ada sejarah di balik gambar itu.

Suatu hari, utk memberi penghormatan kpd Albert atas semua yg telah dikorbankannya, Albrecht Durer dgn susah payah menghela tangan adiknya itu, meluruskan jari-jarinya dan kemudian melukisnya. Ia memberi judul lukisan itu “Hands,” tetapi seluruh dunia melihat lukisan itu jauh dari sekadar ‘Hands‘ melainkan suatu persembahan cinta yg tulus, tangan yg berkorban dan memohon. Itu lah sebabnya ia lebih terkenal dengan judul “The Praying Hands.” Tangan yg bekerja, berkorban demi mewujudkan sebuah cita-cita dan doa. Itu lah Tangan yg Berdoa.

Selamat pagi Sahabat Etos. Bigger! Higher! Better!

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating

He Loves Us

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)

Outline:

  • Understanding God’s Love
    • Many people don’t realize God’s love. It is not easy for the receiver of love to understand love until he or she becomes the giver of love.
    • God loves us and wants us back like a father waiting for the prodigal son to come home
    • God is going after us like a man going after his unfaithful wife who has cheated on him
  • The Greatest Commandments
    • The Lord is One. When you fall in love with God, He becomes everything. Serving only one master.
    • Loving God is an emotional, rational, physical and spiritual experience.
    • Praise and Worship are our love songs
    • We need to nurture and maximize the four pillars of love. Don’t serve God with half your brain!
    • Loving what God loves. If you are happy, I’m happy.

Direkam di IFGF GISI Houston, TX

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Sekolah Luar Biasa

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 4.0/5 (1 vote cast)

Pada suatu waktu, saya bertemu dengan seorang karyawan lulusan SLB (Sekolah Luar Biasa). Dalam dialog, saya bertanya tentang kurikulum: “Diajarkan apa saja di sana?” Jawabnya membuat saya berkomentar dalam hati: “Oh pantas kamu malas…” karena ia menjawab: “Ya macam-macam, termasuk ketrampilan geraji-menggeraji … kalau sampai pelajaran itu saya meninggalkan kelas…” sambil tersenyum.

Begitulah jadinya ia. Bersyukur, ia bekerja di lingkungan teman-teman yang rajin bekerja dan rohani. Lambat laun  ia mulai rajin bekerja, dapat membaca dengan lancar dan berani berdoa dalam persekutuan; bahkan akhirnya iapun menemukan pasangan hidupnya dan menikah dengan baik.

“Koinonia” atau persekutuan kristen merupakan kelas yang ampuh untuk saling belajar dan membentuk, sehingga penulis Ibrani melarang Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan semakin mendekat”.(Ibr. 10:25) Amsal 27:17 juga berkata “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”

Petrus dan Yohanes adalah nelayan yang biasa-biasa saja dan orang yang sederhana, bahkan dalam pengiringannya dengan Yesus Petrus sempat ketakutan dan menyangkali gurunya. Ia bukan type pemberani apalagi sebagai pembicara di depan umum, menghadapi orang-orang pintar seperti ahli torat dan farisi. Namun sesuatu telah terjadi, kuasa kebangkitan Kristus telah membuatnya begitu gagah berani berkhotbah di depan umum, penuh kuasa sehingga ada 5000 orang yang bertobat. Orang dibuatnya bertanya-tanya dan kagum “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.” (Kis. Rsl. 4:13) Bagaimana mereka yang orang biasa dan tidak terpelajar bisa sepandai dan seberani itu. Akhirnya mereka menemukan sendiri jawabnya karena keduanya sebagai pengikut Yesus. Ya, bersekutu dengan Yesus dan murid-murid yang lain itu rahasianya untuk menjadi berani dan berhikmat. Karena itu walaupun ada orang-orang yang membiasakan diri menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan, marilah justeru kita makin giat memanfaatkannya untuk bertumbuh bersama, apalagi kedatangan Tuhan yang tiba-tiba itu makin dekat.

Dari pengalaman bertahun-tahun dalam penggembalaan, saya menyimpulkan: orang yang tiba-tiba tidak aktif lagi dalam persekutuan biasanya “terjadi apa-apa” dalam hidupnya; dan sebaliknya, orang yang tidak setia hadir dalam persekutuan, mudah “terkena apa-apa” dalam hidupnya. Karena itu rajin dan setialah serta waspadalah!

    “ Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga.
    Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-
    tengah mereka.” (Matius 18:18-19)

Refleksi

Sekolah Luar Biasa yang sesungguhnya adalah persekutuan dengan Yesus.

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Doa dan Ketaatan

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)

Ada seorang hamba Tuhan yang menerima panggilan untuk mendoakan seorang ibu yang sudah sangat tua dan sakit parah.

Jujur, hamba Tuhan ini gelisah dan bingung, ia harus berdoa apa? Sudah tua dan sakit parah lagi! Untuk mendoakan agar segera mati tentunya tidak etis; sedangkan untuk mendoakan kesembuhan rasanya tidak mungkin. Bagaimana ini?

Tetapi, karena ia sadar dirinya “hamba” Tuhan, tidak ada pilihan lain kecuali taat, berangkat dan mendoakan, titik.

Tiba di tempat, hamba Tuhan ini mendoakan kesembuhan dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan yang mahakuasa, lalu pulang.

Aneh, tapi nyata….emak yang sudah tua renta dan menjelang ajal itu, ternyata sembuh, sehat kembali, bahkan diberi panjang umur.

Melihat kasus ini, si Hamba Tuhan dengan keheran-heranan bertanya dalam hatinya: “Apa yang menyebabkan ibu tua ini sembuh? Apakah karena doa saya? Ah nggak, karena saya sendiri waktu itu bingung dan hanya berdoa begitu saja. Maka, kalau ibu ini sembuh, itu bukan karena doa saya, tetapi karena saya mau berdoa… ya itu rahasianya, ketaatan seorang hamba!” Hamba Tuhan ini menyesal, karena ia telah membatasi kuasa Allah, sebaliknya ia diajar untuk rendah hati dan taat melaksanakan tugas.

Ya, itulah arti sebuah kejujuran, kerendahan hati, ketulusan, ketaatan dan iman seorang hamba. Kalau “karena doa saya”, itu artinya doanya yang hebat seperti mantra; tetapi kalau “karena saya berdoa” itu artinya iman dan ketaatan.

Pengalaman seperti ini yang kemudian mendorong hamba Tuhan ini untuk memfokuskan diri pada pelayanan doa kesembuhan, dan mengarang buku tentang itu.

Barangkali ini merupakan salah satu sebab, mengapa masalah-masalah kita belum terselesaikan. Karena pada saat Tuhan memerintahkan kita untuk: meminta, mencari dan mengetuk; kita malas dan tidak mau melakukannya dengan berbagai alasan, pada hal kita yang kurang percaya dan tidak mau taat.

Marilah kita ingat, siapakah diri kita? Kalau kita berani berkata “aku hamba Tuhan” alias “doulos” (budak), maka bagi seorang “doulos” tidak ada pilihan lain kecuali taat. Mari kita mengerjakan tugas dan kewajiban kita dan biarkan Tuhan menyelesaikan tugasNya.

Refleksi

“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

(Lukas 17:10)

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Memamah Biak

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 4.5/5 (2 votes cast)

Tinggal di pedesaan memberi kesan tersendiri buat saya. Di ambang senja saya mencium aroma yang spesifik, yaitu bau rumput yang sengaja dibakar untuk mengusir nyamuk. Para petani ini bahkan ada yang tidur satu kamar, tepatnya satu ruang dengan lembunya, rekan sekerja yang sama-sama melepaskan lelah setelah seharian membajak di sawah.

Di siang hari waktu lembu itu sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang, ada satu hal yang saya perhatikan, mulutnya selalu bergerak mengunyah sesuatu. Itulah “memamah biak” kata guru saya dulu. Binatang yang memamah biak perutnya berlapis-lapis, makanan yang tadi secara kasar di simpan di perut, di keluarkan lagi ke mulut untuk dikunyah dan dicernakan lagi ke lapisan perut yang lain dan seterusnya, sehingga lembu itu mendapat sari makan untuk kebutuhan tubuhnya. .. Sungguh hebat “mesin susu” ini sehingga dari rumput yang hijau bisa dihasilkan susu yang putih.

Seharusnya itulah yang dilakukan oleh anak-anak Allah kalau benar-benar mau menikmati rhema Firman Tuhan. Bukan hanya sekedar membaca Alkitab untuk memenuhi kewajiban bersaat teduh secara legalistik, merasa terbeban tanpa mendapat sesuatu apapun. Kita harus membaca dan merenungkannya siang dan malam, menggali dan menggali, mengadakan refleksi: Saya membaca tentang apa? Mengapa demikian? Dan bagaimana menerapkannya? Hanya dengan demikian dan di bawah bimbingan Roh Kudus (Yohanes 16:13  Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang), kita bisa mengalami dan merasakan seperti Daud, menikmati manisnya madu sorgawi  ”Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku” (Maz. 119:103)

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja,

tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4)

Refleksi

Untuk kebutuhan jasmani, kita minimal makan tiga kali sehari.

Berapa kali sehari kita memberi makan jiwa dan rohani kita?

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Saling Menolong

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)

Sebagai hamba Tuhan yang waktu itu masih muda dan single, saya tidak terlepas dari masalah dan pergumulan. Satu hari saya menghadapi pergumulan yang berat dalam pelayanan, saya membutuhkan teman hamba Tuhan lain untuk menolong saya. Maka saya berdoa: “Tuhan kirimkan saat ini seorang hamba Tuhan yang bisa menolong saya ….” Belum tuntas saya berdoa, pintu depan diketuk orang. Wah saya bersyukur karena begitu cepat Tuhan mengabulkan doa saya. Begitu pintu saya buka, muncullah sosok hamba Tuhan yang saya kenal, namun belum sempat saya persilahkan masuk, ia melontarkan keluhannya: “Wah saya ada masalah, bisa nggak kamu tolong saya ….” Dengan terbengong saya ajak dia masuk ke kamar, dan saya katakan bahwa saya sendiri bermasalah. Akhirnya kami sepakat, walaupun sama-sama bermasalah, tetapi karena masalahnya berbeda kami tetap bisa saling menolong. Lucu sekali, kami bergantian konseling, dan plong… ternyata kami tertolong, masalah kami teratasi dan sejak itu kami menjadi sahabat karib.

Begitulah ayat mas kita hari ini “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Gal. 6:2) Ayat ini menunjukkan bahwa semua kita punya beban masalah, mungkin masalah keluarga, ekonomi, pekerjaan atau pelayanan. Jangan malu dan segan untuk sharing dengan saudara seiman yang dapat dipercaya; dengan demikian beban menjadi ringan bila sama-sama dijinjing. Itulah juga tradisi baik yang sering dilakukan oleh jemaat yang mula-mula, jemaat yang di Makedonia dan Yerusalem (II Kor. 8:1-24). Meskipun mereka miskin dan menderita serta hidup dalam berbagai pencobaan, mereka saling menolong, bahkan mendesak untuk saling mengambil bagian. Baca dan temukanlah apa rahasia mereka!

Dengan melakulan demikian kita memenuhi hukum Kristus, yaitu mengasihi Allah dengan saling mengasihi sesama.

Ku tak dapat jalan sendiri

Tuhan tolonglah daku

Biarlah sinarMu menerangiku

Sbab ku tak dapat jalan sendiri

Refleksi

Menanggung beban orang lain, meringankan beban sendiri

Sebagai hamba Tuhan yang waktu itu masih muda dan single, saya tidak terlepas dari masalah dan pergumulan. Satu hari saya menghadapi pergumulan yang berat dalam pelayanan, saya membutuhkan teman hamba Tuhan lain untuk menolong saya. Maka saya berdoa: “Tuhan kirimkan saat ini seorang hamba Tuhan yang bisa menolong saya ….” Belum tuntas saya berdoa, pintu depan diketuk orang. Wah saya bersyukur karena begitu cepat Tuhan mengabulkan doa saya. Begitu pintu saya buka, muncullah sosok hamba Tuhan yang saya kenal, namun belum sempat saya persilahkan masuk, ia melontarkan keluhannya: “Wah saya ada masalah, bisa nggak kamu tolong saya ….” Dengan terbengong saya ajak dia masuk ke kamar, dan saya katakan bahwa saya sendiri bermasalah. Akhirnya kami sepakat, walaupun sama-sama bermasalah, tetapi karena masalahnya berbeda kami tetap bisa saling menolong. Lucu sekali, kami bergantian konseling, dan plong… ternyata kami tertolong, masalah kami teratasi dan sejak itu kami menjadi sahabat karib.Begitulah ayat mas kita hari ini “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Gal. 6:2) Ayat ini menunjukkan bahwa semua kita punya beban masalah, mungkin masalah keluarga, ekonomi, pekerjaan atau pelayanan. Jangan malu dan segan untuk sharing dengan saudara seiman yang dapat dipercaya; dengan demikian beban menjadi ringan bila sama-sama dijinjing. Itulah juga tradisi baik yang sering dilakukan oleh jemaat yang mula-mula, jemaat yang di Makedonia dan Yerusalem (II Kor. 8:1-24). Meskipun mereka miskin dan menderita serta hidup dalam berbagai pencobaan, mereka saling menolong, bahkan mendesak untuk saling mengambil bagian. Baca dan temukanlah apa rahasia mereka!

Dengan melakulan demikian kita memenuhi hukum Kristus, yaitu mengasihi Allah dengan saling mengasihi sesama.

Ku tak dapat jalan sendiri

Tuhan tolonglah daku

Biarlah sinarMu menerangiku

Sbab ku tak dapat jalan sendiri

Refleksi

Menanggung beban orang lain, meringankan beban sendiri

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Indonesia: Dahulu dan Kini

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)

INDONESIA: DAHULU DAN KINI

Wawancara oleh: Ivan, “In Touch” Perkantas

 

Sejak bangsa Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1997, kondisi rakyat Indonesia menjadi semakin buruk. Bahkan krisis yang terjadi, kini sudah berkembang menjadi krisis multidimensi, di mana krisis yang ada bukan hanya terjadi pada aspek moneter saja, tapi sudah merambah ke aspek yang lain, seperti krisis ekonomi, krisis moral, dan sebagainya. Tragis memang, apalagi kalau melihat negara-negara lain di Asia yang juga mengalami krisis yang sama, sekarang sudah mulai bangkit bahkan sudah pulih dari krisis yang menimpanya. Keadaan bangsa yang seperti ini tentunya mengundang keprihatinan kita bersama. Paling tidak, keprihatinan itu juga dirasakan oleh Andreas Christanday, pendiri dan pembina  yayasan Christopherus Semarang.

“Saya dulu bangga dengan bangsa Indonesia. Kalau ke luar negeri saya dengan bangga memperkenalkan budaya Indonesia. Saya senang memakai pakaian batik dan  menceritakan keberagamaan dan kekayaan sumber daya alamnya yang sulit tertandingi oleh negara manapun di dunia ini. Pancasila yang hebat dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika banyak dipelajari oleh negara tetangga. Belum lagi keluasan negara yang unik karena terdiri dari laut dan ribuan pulau dengan keramah-tamahan penduduknya yang menjadi ciri khas bangsa ini. Itu semua membuat saya semakin bangga dengan negeri tercinta kita ini,” katanya bersemangat.

“Tapi sekarang saya kecewa dengan bangsa ini. Kecewa di sini masih dalam konteks kecintaan saya terhadap bangsa ini. Mengapa kecewa? Kecewa karena sepertinya semua yang saya banggakan dulu itu kini seakan hilang atau luntur. Semua yang saya banggakan itu sudah terkubur dan tenggelam oleh berbagai permasalahan multi dimensi yang dialami oleh bangsa kita. Negara yang katanya menjunjung tinggi demokrasi ini melanggar sendiri asas demokrasi. Demo memperjuangkan HAM malah berlangsung anarkis. Padahal tindakan anarkis adalah tindakan yang melanggar HAM. Lembaga-lembaga yang seharusnya bertugas mendidik generasi penerus bangsa jauh dari mutu yang bagus. Tidak heran jika peserta didiknya berkelakuan seperti orang yang tidak pernah dididik. Intinya, bangsa kita sudah mengalami kemerosotan etika, moral, dan filosofinya. Tidak hanya itu, nampaknya bangsa kita juga sudah menjadi bangsa yang stres. Banyak penduduknya yang melakukan perbuatan-perbuatan yang nekat, yaitu tindakan khas orang stres. Coba kita ingat berita di media, berapa banyak orang yang tiba-tiba naik tower (biasanya tower pemancar milik salah satu operator seluler) dan ingin terjun dari sana? Berapa banyak orang-orang yang begitu mudahnya gantung diri karena tidak tahan dengan kesulitan   yang dideritanya, karena lilitan utang, atau karena masalah percintaan dengan pasangannya? Yang lebih miris, ada anak SD yang nekat bunuh diri karena malu belum membayar uang sekolah. Contoh tindakan stres yang lain adalah adanya calon bupati yang mengamuk merusak kantor pemerintah, karena dirinya gagal menjadi bupati terpilih. Tanpa sadar, kalau ia jadi bupati harus membangun kembali kantor itu, uangnya siapa? Bahkan ada pemerintah daerah yang membuat rumah sakit jiwa yang disediakan khusus untuk para caleg yang mengalami gangguan jiwa karena gagal lolos menjadi anggota legislatif. Bangsa kita memang sedang stres. Lihatlah, dulu belum pernah terjadi kerasukan iblis secara massal seperti yang sering terjadi di pabrik dan sekolah-sekolah negeri. Inilah yang membuat saya kecewa, karena saya seperti sudah tidak bisa lagi (baca: sulit) bangga terhadap bangsa ini,” jelasnya.

            Apa yang diungkapkan Bp. Andreas ini tidaklah berlebihan. Pendapat tersebut merupakan reaksi jujur atas apa yang sudah ia rasakan selama ini. Apa yang ia katakan juga patut kita jadikan introspeksi. Apa yang masing-masing kita lihat dan rasakan dengan keadaan bangsa Indonesia, apakah juga membuat kita prihatin? Ini penting. Sebab kalau tidak, kita akan sulit untuk mempunyai beban apalagi berbuat sesuatu bagi bangsa ini.

Indonesia: Bangsa yang miskin

Selain cerita di atas, ada satu lagi permasalahan yang patut mendapat perhatian dari kita. Apa itu? Jawabannya adalah masalah kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2007 sebanyak 37,17 juta jiwa. Sedangkan menurut laporan Australia-Indonesia Partnership (Juli 2004), lebih dari separuh penduduk Indonesia yang berjumlah 210 juta rawan terhadap kemiskinan. Pada tahun 2002, Bank Dunia memperkirakan 53% penduduk atau sekitar 111 juta jiwa, hidup di bawah garis kemiskinan standar internasional yaitu US$ 2 per hari. Badan Dunia yang menangani masalah pangan, World Food Programme (WFP) memperkirakan, anak Indonesia yang menderita kelaparan akibat kekurangan pangan saat ini berjumlah 13 juta orang.

Keadaan negara yang sangat buruk dewasa ini juga telah dipaparkan oleh Wakil Ketua Badan Legislasi DPR, Bomer Pasaribu, “Kondisi masyarakat Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 36 tahun terakhir. Hal itu dilihat dari melonjaknya angka kemiskinan serta meledaknya angka pengangguran, yang bila tak segera diatasi akan menjadi masalah besar bangsa,” katanya dalam makalah yang disampaikan pada Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 di Medan. Dia juga mengatakan bahwa seiring dengan melonjaknya angka kemiskinan, angka pengangguran juga makin meledak. Tahun 2004, pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 9,7 persen, sementara tahun 2005 meningkat menjadi 10,3 persen.
“Akibat parahnya kesulitan ekonomi, pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 11,1 persen tahun 2006. Bila ditotal dengan seluruh jenis pengangguran di Indonesia tahun 2006 diperkirakan mencapai 41 persen atau lebih dari 40 juta orang,” katanya. (Antara News, 7 Juli 2007).

Dengan melihat angka-angka 13 juta anak-anak kelaparan, dan lebih dari 100 juta orang hidup dengan kurang dari $ 2 sehari, serta sekitar 40 juta orang menganggur, maka jelas bahwa kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini adalah buruk sekali, bahkan yang terburuk dalam 36 tahun terakhir!

Kemiskinan: Apa dan Mengapa?

Membahas tentang kemiskinan, Andreas Christanday juga mempunyai perspektif tersendiri dalam mengartikan hal ini.

“Untuk bisa mengerti apa itu miskin, ada baiknya  kita  mengerti dulu apa itu kaya,”  katanya.

 “Kaya menurut pendapat saya adalah orang yang mempunyai sesuatu lebih dari apa yang ia butuhkan. Tetapi perlu diingat, apa yang dibutuhkan di sini tidak melulu diartikan sebagai hal-hal yang dipandang mewah”, lanjutnya.

“Ada satu kisah menarik yang cukup bisa membantu pengertian tersebut. Alkisah ada dua orang yang pergi ke suatu tempat bersama-sama. Berhubung tempatnya cukup terpencil, tidak bisa lewat jalan darat, dan harus melewati padang pasir yang cukup luas, maka untuk mencapai tempat tersebut hanya bisa ditempuh menggunakan pesawat yang kecil. Karena kondisi ini, maka pesawat hanya bisa ditumpangi oleh pilot dan kedua orang tersebut berikut barang bawaannya. Yang menarik di sini adalah barang yang mereka bawa. Yang satu, sebut saja si A, membawa emas dalam jumlah yang banyak, sedang yang satunya lagi, sebut saja si B, membawa banyak sekali galon yang berisi air. Di tengah perjalanan, tiba-tiba pesawat yang mereka tumpangi mengalami gangguan mesin dan harus mendarat darurat di padang pasir. Sungguh ajaib, mereka berdua selamat sedangkan sang pilot meninggal karena bagian depan pesawat rusak berat. Sinyal juga terputus sehingga mereka tidak bisa menghubungi siapapun. Supaya mereka selamat, mereka harus mengadakan perjalanan setidaknya dua hari untuk sampai ke pemukiman yang terdekat.  Nah, dalam kondisi yang demikian, dari kedua orang ini mana yang lebih kaya? Si A yang punya banyak emas atau si B yang punya banyak persediaan air?”, ia menghentikan ceritanya seraya memberi kesempatan untuk berpikir.

“Kalau menilik kembali pengertian saya tentang definisi kaya, maka bukan si A yang punya banyak emas yang diartikan sebagai orang kaya. Emas seberapapun banyaknya tidak akan ada artinya kalau ia ada di tengah gurun seperti cerita tadi”, katanya.

            Terlepas dari apa yang sudah dijelaskan oleh Andreas Christanday tentang kemiskinan, tentu kitapun juga mempunyai definisi sendiri-sendiri. Namun hal penting lain yang patut kita mengerti adalah mengapa kemisikinan itu bisa terjadi. Sehingga diharapkan akan muncul tindakan-tindakan pencegahan bagi yang tidak mau miskin dan keinginan bangkit bagi orang-orang yang masih terjerat dalam masalah kemiskinan.

Menurut Dr. Ruth F. Selan, dalam buku/buletinnya yang berjudul “Sahabat Gembala”, Secara umum, ada empat hal yang menyebabkan orang menjadi miskin:

  1. Budaya bergantung kepada orang lain.
  2. Ketidakmampuan dari suatu generasi ke generasi yang lain untuk berpartisipasi dalam masyarakat yang lebih luas.
  3. Perkembangan yang terhambat dari potensi manusia.
  4. Meningkatnya orang tua tunggal: janda yang menjadi kepala rumah tangga. Jumlah orang miskin terus bertambah.

Beda lagi dengan apa yang diungkapkan dalam buletin Gema Kalvari dengan artikelnya yang berjudul “Kemiskinan dan Cara Mengatasinya” yang ditulis oleh Sumadi Adikusuma. Menurutnya, faktor-faktor penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut:

  1. Kemalasan.
  2. Kebodohan dan pemborosan.
  3. Bencana alam.
  4. Kejahatan, misalnya dirampok
  5. Genetik dan dikehendaki (diizinkan) Tuhan, baik genetik orang tua, tempat lahir, keadaan orang tua yang miskin, dan sebagainya.

Sedangkan Andreas Christanday ketika ditanya tentang penyebab kemiskinan lebih menyoroti karakter dari manusianya sendiri. Selain kemalasan, prinsip “narimo ing pandum” yang dibarengi dengan rendahnya semangat dan inovasi akan membuat manusia akan semakin malas dalam berusaha. Apalagi kalau sudah ditambah dengan alasan “takdir”, yang membuat orang tersebut merasa percuma ketika berusaha.
Gereja dan Kemiskinan

Tuhan Yesus berkata, “… orang-orang miskin selalu ada padamu” (Matius 26:11). Gereja dan orang Kristen, baik ke dalam dan keluar selalu menghadapi orang-orang miskin. Suatu pendekatan alkitabiah dalam masalah ekonomi pasti akan menyoroti masalah kemiskinan.

Menurut Andreas Christanday, ketika diperhadapkan dengan pertanyaan apa kaitan gereja dengan kemiskinan, ternyata ia mempunyai jawaban yang mengagetkan. Menurutnya gereja sekarang justru miskin. Ia mengatakan hal ini dalam konteks pengertian miskin – kaya yang sudah ia kemukakan sebelumnya. Banyak gereja yang hanya berfokus mengejar emas padahal yang dibutuhkan sekarang adalah persediaan air bagi yang haus. Akhirnya fenomena yang terjadi adalah banyak gereja yang eksklusif, kehadirannya kurang dirasakan masyarakat, bahkan menimbulkan kecemburuan sosial. Ia juga menceritakan pengalamannya ketika melihat saldo pendapatan sebuah gereja yang sisa sedemikian banyak namun “miskin program” untuk membagi berkat bagi masyarakat di sekitarnya.

Tanggung Jawab Gereja

Lantas bagaimana seharusnya sikap Gereja terhadap kemiskinan, baik itu orang Kristen secara pribadi maupun secara komunitas? Perlu disadari bahwa usaha untuk mengentaskan kemiskinan yang hanya berpusat pada kelompok garis bawah kemiskinan dapat salah arah bila jalan keluarnya hanya dengan memberikan uang. Sebaliknya, perlu usaha untuk mengenal penyebab suatu kemiskinan dari sekelompok orang-orang miskin sehingga kita dapat menanganinya secara tepat.

Menurut Dr. Ruth F. Selan, yang dapat dilakukan Gereja dalam perannya terhadap kemiskinan adalah:

  1. Pelayanan penginjilan, termasuk di dalamnya adalah:
  • sosiologi dan keselamatan;
  • reformasi dan penebusan;
  • kebudayaan dan pertobatan;
  • suatu orde sosial baru dan kelahiran baru;
  • suatu revolusi dan regenerasi.

Jika penginjilan yang dilakukan tidak berorientasi pada prinsip ini, penginjilan itu tidak mampu, berpandangan sempit, dan akan gagal untuk menghidupi panggilan ilahi yang mulia dari Amanat Agung.

  1. Pemberian pelayanan dan pendidikan serta pelatihan bagi orang-orang miskin agar mereka dapat menolong diri sendiri. Masalah harga diri, pemberantasan buta aksara, dan keterampilan kerja dapat diberikan dalam program pendidikan tersebut. Pelaksanaannya dapat dilakukan dalam bentuk kerja sama antar gereja ataupun antara gereja dan pemerintah setempat.
  2. Kelompok kerja dalam gereja. Kelompok ini memimpin jemaat untuk menolong pemerintah dengan memberikan informasi dan keprihatinan mereka terhadap orang-orang miskin.

            Sedangkan lembaga Kristen non gereja, menurut Andreas Christanday, harus bisa bersinergi dan saling mendukung dengan gereja. “Misal ketika gereja kekurangan program yang spesifik ya dukunglah lembaga-lembaga Kristen yang biasanya sudah mempunyai visi yang spesifik dalam menjalankan perannya. Sebaliknya, pihak lembaga juga harus kreatif menciptakan program yang tidak menyaingi atau bahkan sama dengan program yang sudah dibuat oleh gereja-gereja”, jelasnya.  

 Lantas bagaimana dengan individu-individunya? Untuk pertanyaan ini Andreas Christanday juga punya jawabannya. Ia kembali menghubungkan dengan pengertian miskin-kaya yang sudah dijelaskannya.

“Untuk bisa kaya ya kita harus punya lebih dari yang kita butuhkan, sehingga lebihnya itu bisa kita bagi pada orang yang membutuhkan”, katanya.

            “Bedakan keinginan dengan kebutuhan, harus tahu situasi dan kondisi seperti yang dialami dua orang dalam cerita tadi, butuh pula didukung oleh pendidikan dan pelatihan, pelajaran etika dan moral”, lanjutnya.

            Di akhir ceritanya, ia  memberikan pesan kepada Gereja Tuhan bahwa kita harus siap dalam pelayanan Diakonia karena dalam pelayanan ini kita tidak boleh mengharap untung, siap merugi, siap ditipu orang, dijengkelkan orang dan sebagainya. Ia juga memberi penguatan terhadap orang yang dipandang miskin dengan mengatakan bahwa Allah senantiasa membela orang miskin.   “Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.“ (Yeh. 16:49). Tapi di sisi lain sebagai penyeimbang, pihak yang miskin juga harus selalu berusaha dan tidak boleh malas. “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” (Ef. 4:28).  

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Anak-anak Allah

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 3.7/5 (3 votes cast)

I Yohanes 3:1-10

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” (I Yoh. 3:1)

Kalau sebutan “orang percaya” dalam PB lebih dari 30 ayat; maka sebutan “anak-anak Allah” bagi orang kristen (dalam bahasa Inggeris “sons of God” atau “children of God”) ada dalam 14 ayat. Perlu diperhatikan bahwa penyebutan “anak-anak Allah” sering disebutkan dengan huruf kecil dan jamak, untuk membedakan Yesus sebagai “Anak Allah” yang menunjukkan keillahianNya.

Lalu apa makna dari “anak-anak Allah”? Pertama, “anak” merupakan hubungan kasih yang akrab, namun hormat dalam keluarga, seperti hubungan bapa dan anak. “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Galatia 4:6). Mantan presiden Gus Dur dengan humor pernah berkata: “Hubungan yang paling akrab/dekat antara Allah dan umatNya adalah hubungan antara orang kristen dengan Allah yang memanggilNya Bapa dalam berdoa...” Rasul Yohanes yang dikenal dengan “Rasul Kasih” dalam suratnya (I Yoh. 3:1-10) mengatakan bahwa penyebutan “anak-anak Allah” bagi manusia yang tadinya musuh Allah, merupakan penyataan kasih Bapa yang luar biasa besarnya.

Kedua, istilah “anak” mengacu kepada hak sebagai ahli waris Kerajaan Sorga. “Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?” (Yakobus  2:5)

Ketiga, kata “anak” mengacu pada sifat keturunan. Anak biasanya membawa sifat-sifat bapanya, bukan saja warna kulitnya tetapi juga karakternya. Sebagaimana Kristus membawa sifat-sifat BapaNya, demikian seharusnya kita memiliki sifat-sifat agung Tuhan dari Bapa kita. “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,… Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,” (Kol. 1:15; 19)

Pertanyaan yang terpenting sekarang adalah: bagaimana dan sejak kapan kita layak disebut “anak-anak Allah”? Jawabnya ada dalam Yohanes 1:9-12

1:9 “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. 1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”

Yesus sebagai Terang Dunia telah datang ke dunia, tetapi dunia tidak mengenalnya, bahkan umatNya (Israel) menolak Dia; tetapi semua orang yang menerima dan percaya kepadaNya, termasuk Anda dan saya, diberi kuasa/hak/otoritas untuk menjadi “anak-anak Allah”, haleluya!

Refleksi

Di mana ada hak, di situ ada tanggung jawab. Kita bangga diberi hak menjadi anak-anak Allah, tetapi kita bertanggung jawab untuk terus menjalin hubungan kasih yang akrab dan hormat dengan Bapa, serta mencerminkan sifat-sifat Bapa.

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating

Alkitab dan Keluargaku

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 4.1/5 (7 votes cast)

Entah bagaimana jadinya kalau keluarga kami hidup tanpa Alkitab; sulit saya membayangkan. Barangkali saya dan kakak kandung saya Pdt. Em. Charles Christano tidak akan menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Mungkin dia sedang giat-giatnya praktek sebagai dokter dan saya sedang sibuk mengawasi bengkel alat-alat elektronik. Itu yang dulu kami dambakan, kakak bercita-cita menjadi seorang dokter dan saya masuk sekolah tehnik listrik untuk menjadi sarjana tehnik. Maklumlah keluarga kami waktu itu adalah keluarga yang kurang mampu, sehingga hanya kami bertiga (ditambah seorang kakak perempuan, Inggriani, yang sekarang juga aktif dalam pelayanan bersama suaminya Dani Pribadi) yang mengenyam pendidikan tinggi. Kakak-kakak yang lain rela tidak bersekolah, mereka membuka warung dan menjadi sopir taxi untuk membiayai kami. Keluarga kami jatuh miskin karena waktu zaman Jepang, kami yang tinggal di desa Tlogowungu Pati, sempat dirampok dan rumah kami dibakar sampai dua kali. Maka keluarga kami mengungsi ke kota Pati dan ayah merintis usaha bengkel sepeda, bengkel sepeda tidak membutuhkan modal yang besar. Bertepatan di depan rumah kami ada lapangan sepak bola Pragolo, sehingga kami bisa mendapat uang tambahan dengan menjadi tukang parkir sepeda (waktu itu belum ada sepeda motor, dan sepedapun harus dikenakan biaya khusus yang disebut “peneng”[1]).

Sekilas tentang Pdt. Em. Charles Christano dan Saudara-Saudaraku

Nama aslinya Tan Ing Tjioe. Dia adalah kakak kandungku laki-laki, urutan kelima dari tujuh bersaudara. Kami bersaudara terdiri dari empat perempuan dan tiga laki-laki:

  1. Tan Giok Lian  Nio
  2. Tan Siem Nio (Tan Giok Swie Nio)
  3. Tan Ing Tjian
  4. Tan Hwie Nio
  5. Tan Ing Tjioe
  6. Tan Ing Nio
  7. Tan Ing Thay (saya)

Lulus dari SMA Loyola Semarang, ia melanjutkan studinya di Sanata Dharma, sastra Inggris. Ia terpanggil menjadi hamba Tuhan dan menyiapkan dirinya, studi di STT Jakarta. Gelar Masternya diperoleh di Discipleship Training Centre Singapore dan London Bible College.  Ia pernah menjabat sebagai ketua Sinode GKMI, president Mennonite World Conference dan gembala sidang GKMI Kudus sampai pensiun. Menikah dengan Lie Kwie Hwa, dan dikaruniai dua putera, satu puteri dan dua orang cucu.

Begitu hebatnya peran Alkitab dalam keluarga ayah saya, sehingga kami anak cucunyapun mengikuti teladannya, kami menempatkan Alkitab sebagai pedoman  dalam keluarga kami. Apa jadinya keluarga kami bila tanpa berpedoman pada Alkitab. Bisa saja ada dari anak kami yang terlibat pergaulan bebas atau narkoba. Puji Tuhan, anak-anak, menantu dan cucu-cucu semua rajin ke gereja dan aktif dalam pelayanan, baik di dalam maupun di luar negeri. Meskipun negara Amerika dikenal sebagai tempat yang “bebas moral”, syukur, anak-anak yang berada di sana baik-baik saja.

Keteladanan Orang Tua

Semuanya diawali oleh teladan dan disiplin dari orang tua saya.  Tidak ada cara mendidik anak seampuh keteladanan dan disiplin orang tua.

Sedikit latar belakang dari ayah saya. Ia dari kecil hidup sebatang kara, terpisah dari keluarga karena bencana gunung berapi. Dari Jember, Lumajang, merantau sampai ke Semarang, Kudus dan menetap di desa Tlogowungu Pati. Sewaktu di Semarang, ayah saya yang latar belakangnya ikut kepercayaan Tionghoa, sering melihat di kelenteng ada banyak patung dewa-dewi, seperti dewa langit, dewa laut, dewa bumi, dewa dapur, dst. Secara nalar ayah saya berpikir, “Seandainya mereka ini saya adu, mana yang paling hebat. Yang berkuasa di sorga dan bumi, harus ada… tetapi siapa namanya?” Dengan kata lain, ayah saya sudah percaya “monotheisme”, tapi tidak tahu siapa NamaNya. Sampai John Sung seorang penginjil Cina melalui tim-nya memberitakan Injil ke desa Tlogowungu. Waktu itu dijelaskan bahwa menurut Matius 28:18, “Yang berkuasa di sorga dan di bumi  adalah Yesus”. Itulah Nama yang selama ini ia cari, maka ayah saya mau menerima Kristus. Bukan hanya begitu, tetapi sejak itu hidupnya sungguh mengalami perubahan yang luar biasa, dan seterusnya mendidik anak cucunya secara Kristen.

Bagi ayah, Alkitab Perjanjian Lama & Perjanjian Baru[2], yang waktu itu masih mahal dan langka, disebut “Kitab Wasiat Yang Lama” dan “Kitab Wasiat Yang Baru”, benar-benar dihargai ayah saya sebagai “wasiat”,[3] sehingga diberi sampul kulit yang bagus dan dibaca siang dan malam. Begitu cintanya ayah saya dengan Alkitab ini sehingga Alkitablah yang terlebih dahulu diselamatkan dari kobaran api waktu rumah kami dijarah dan dibakar.

Kecintaan ayah akan Alkitab ini ditularkan kepada anak-anaknya untuk bersaat teduh tiap hari dan membaca Alkitab secara urut. Untuk mendisiplin kami, ayah setiap tahun khusus pesan ke Lembaga Alkitab Indonesia daftar bacaan Alkitab. Setiap hari kami harus menandai setiap kotak ayat yang sudah kami baca. Sekarang kita patut bersyukur karena sudah tersedia berbagai buku panduan Saat Teduh yang menarik, bukan sekedar daftar bacaan Alkitab. Bahkan ada edisi khusus untuk pemuda, remaja dan anak-anak.

Begitulah kami dididik untuk memperlakukan Alkitab dengan hormat. Pertama, mengerti atau tidak, kami dilatih untuk mencintai “Firman Tuhan”. Bahkan meskipun waktu itu saya belum mengerti, bagaimana sebuah buku bisa disebut Firman Tuhan. Kedua, kami dilatih untuk percaya bahwa Alkitab itu adalah “wasiat, wahyu dari Allah”. Kami harus mentaatinya dan pasti diberkati. Meskipun ayah tidak mampu menjelaskan Alkitab sesuai kemampuan kami, tapi kami anak-anaknya sulit untuk membantah karena melihat keteladanan dan perubahan hidup ayah berikut kecintaannya akan gereja yang luar biasa dan nyata. Beliau yang dulu suka berjudi dan sabung ayam serta perokok berat telah berubah total.

Akhirnya kami mengerti, Alkitab adalah Firman Tuhan yang menjadi “Pedoman Hidup” manusia. Sungguh relevant apa yang dikatakan Paulus kepada Timotius, sebagai hamba Tuhan yang muda, dalam  II Tim. 3:15-17

3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

3:17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Dan juga dalam II Tim. 1:15

Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Iman Timotius juga dibentuk dan diturunkan dari nenek dan ibunya.[4] Seperti Timotius, saya menjadi “hamba Alkitab” yaitu hamba Tuhan yang memberitakan FirmanNya berkat keteladanan ayah saya.

Kebiasaan membaca Firman Tuhan kami lanjutkan juga kepada anak-anak kami. Kami menganjur­kan anak-anak kami untuk melakukan Saat Teduh pribadi setiap hari, dan juga berusaha melakukan Mezbah Keluarga bersama-sama walaupun tidak bisa setiap hari. Mezbah Keluarga bersama berbeda dengan saat teduh pribadi.

Kami menempatkan Alkitab sebagai pusat kehidupan kami, sebagai pedoman dan otoritas tertinggi dalam mengambil keputusan. Untuk itu, saya membelikan masing-masing anak satu Alkitab, termasuk anak yang belum bisa membacapun saya belikan yang kecil bergambar. Mengapa? Agar jangan sampai ada kesan dibeda-bedakan, sebaliknya menanamkan rasa memiliki dan bangga serta mencintai Alkitab. Belajar mencintai “buku”nya dulu sebelum mencintai Firman Tuhan. Saya sendiri begitu mencintai Alkitab, sehingga bertahun-tahun saya sekolah Alkitab. Saya senang mengoleksi Alkitab dari berbagai bahasa dan versi, juga dari berbagai bentuk. Dari yang besar sampai yang sekecil ibu jari, saya punya.

Kami mendisiplin dengan menyadarkan bahwa doa dan membaca Firman Tuhan bukan saja keharusan tetapi kebutuhan, seperti bernafas. Awal kami melakukan Saat Teduh ada perasaan terpaksa, akan tetapi lama-lama menjadi terbiasa dan seterusnya sukacita. Bahkan rasanya hilang damai atau ada “something missing” kalau tidak melakukan Saat Teduh satu hari saja. Mirip seperti memakai sepatu baru, awalnya tidak merasa enak, terpaksa, tapi lama-kelamaan biasa dan senang memakai sepatu yang baru itu.

Ada peristiwa lucu. Pada suatu hari, waktu kami sedang asyik nonton TV “Dunia dalam Berita”, tiba-tiba si Benny yang saat itu masih 3 tahun maju ke TV dan menekan tombol “off” sambil bergumam: “Lenungan-lenungan…”(maksudnya renungan-renungan). Terus terang waktu itu saya agak jengkel. Tapi dengan menahan rasa malu, saya tidak berani menghidupkan TV lagi, sebaliknya membenarkan sikap anak kami ini dengan mengambil Alkitab dan buku nyanyian. Hari itu kami memang belum melakukan Mezbah Keluarga. Betapa mengucap syukurnya kami selaku orang tua, telah berhasil mendisiplin anak-anak kami untuk Mezbah Keluarga, dan ini jauh lebih penting dari berita dunia yang saya bisa baca lewat koran atau tanya teman. Ya, ada waktunya kita belajar dari anak-anak, termasuk belajar soal doa dan iman.

Biasanya dalam Mezbah Keluarga, kami “sharing” pokok-pokok doa. Saya terharu pada waktu anak kami yang kedua Geoffrey masih kecil, dia minta doa syafaat buat engkong Liem yang jempolnya sakit. Saya sendiri kurang memperhatikan. Namun pagi sebelumnya waktu saya mengajak Geoffrey main ke rumah engkong Liem, memang jempolnya sedikit luka dan dibalut. Anak pertama kami, Chris, minta didoakan burung betetnya yang sudah hilang dua hari lalu agar bisa kembali beserta rantainya yang bagus. Anehnya, besoknya betet itu kembali masih lengkap dengan rantainya. Seandainya betet tidak kembalipun kami belajar bahwa doa selalu dijawab Allah walaupun tidak selalu dikabulkan. Saya yang hamba Tuhan diajar untuk tidak meremehkan iman dan doa anak-anak.

Bagaimana Kami Memperlakukan Alkitab

Kalau Firman Tuhan diumpamakan sebagai senjata Allah atau pedang Roh, maka harus dipegang dengan kelima jari agar tidak mudah dicuri iblis. Kelima jari itu adalah: kelingking (yang sering kita gunakan untuk mengorek telinga, agar bisa mendengar dengan baik) melambangkan mendengar Firman; jari telunjuk melambangkan membaca; jari tengah (biasanya untuk mencicip makanan) melambangkan mempelajari; jari manis bercincin (mengingatkan hubungan kita dengan kekasih) lambang merenungkan; dan jempol/ibu jari (yang sering kita gunakan untuk menekan tombol “start” pada kendaraan motor) melambangkan melakukan Firman Tuhan. Dengan lambang kelima jari ini kita senantiasa diingatkan bagaimana seharusnya kita memperlakukan Alkitab agar tidak bosan, sebaliknya tertarik dan mendapat Rhema[5], yaitu: mendengarkan; membaca; mempelajari; merenungkan dan melakukan.

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar sajal sebab jika tidak demikian, kamu menipu diri sendiri . (Yakobus 1:22)

Bagaimana Alkitab Memperlakukan Kami

Pertama, Alkitab menyatukan keluarga kami dalam kebersamaan melalui Mezbah Keluarga. Yang penting bukan berapa seringnya tetapi betapa baiknya. Kami memuji Tuhan bersama, berdoa bersama, berdiskusi bersama sekitar Firman Tuhan. Tidak heran, Dr. Pitram Sorokin dari Universitas Havard menemukan melalui survey-nya bahwa hanya satu pasang suami-isteri yang bercerai dari 1015 pasang suami-isteri yang melakukan Mezbah Keluarga. Juga  benar kata-kata hikmat ini:

Family who pray together and play together will stay together.

Kedua, Alkitab merupakan otoritas tertinggi dan obyektif dalam menegur dan menasihati kami. Seringkali baik anak maupun orang tua, tidak mudah menerima nasihat dari orang lain; namun tidak demikian terhadap Firman Tuhan yang berotoritas.

Ketiga, Alkitab yang dibaca kapan saja dan di mana saja membuat  masing-masing kita takut akan Tuhan, sepertinya Ia hadir dan mataNya selalu mengawasi kita. Inilah yang membuat kami mantap melepaskan anak-anak untuk study di manapun. Saya jadi ingat, satu peristiwa waktu saya besoknya akan berangkat study di luar kota; ayah memanggil saya, katanya: “Sini, saya doakan… Ingat kamu sudah dewasa dan mulai besok papah mamah tidak mungkin lagi mengawasimu. Kamu akan bebas melakukan apa saja, dan mungkin bisa melupakan papa mama. Papa cuma pesan satu saja, “kamu jangan lupa ke gereja.” Ayah saya ternyata orang yang bijaksana, mana mungkin saya lupa papa dan mama kalau saya selalu ke gereja, karena di gereja selalu dibacakan Alkitab, “Hai anak-anak, taatilah dan hormatilah orang tuamu di dalam Tuhan…” Lihat begitu ampuhnya Alkitab itu memperlakukan kami.

Keempat, Alkitab memberi saya bekal dan memperlengkapi saya untuk menjadi hamba Tuhan. II Tim. 3:15-17 tertulis:

Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Demikianlah, Alkitab memberi saya hikmat, menuntun saya, memberi manfaat/bahan untuk mengajar, untuk menyatakan/ menemukan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik dalam kebenaran, dan memperlengkapi saya sebagai hamba Tuhan untuk melakukan perbuatan dengan baik.

Dahulu sebelum saya menikah dan berumah tangga sering merasa rendah diri. Dari mana saya yang kecil dan muda ini mendapat wibawa dan bahan yang benar untuk berkhotbah dan berceramah tentang keluarga dan berbagai masalah kehidupan? Alkitablah text book saya dan Alkitablah sebagai otoritas tertinggi untuk membongkar masalah, untuk mengoreksi dan untuk mengajarkan kebenaran.

Lagi-lagi Alkitab, lagi-lagi Alkitab, begitu tekunnya keluarga kami memperlakukan Alkitab, dan sebaliknya betapa hebatnya Alkitab memperlakukan kami.  Benar-benar, Alkitab adalah “Wasiat bagi Keluarga”. Saya tidak kecewa menjadi hamba Tuhan untuk memberitakan Firman Tuhan seumur hidup saya.

Sewaktu Michael Angelo, pelukis dan pemahat terkenal Itali, menanda-tangani kontrak untuk melukis pada kubah gereja yang begitu tinggi, teman kerjanya dengan ragu bertanya: “Engkau jadi menerima pekerjaan ini? Kalau engkau dan aku terpeleset jatuh matilah kita!”. Tetapi Michael Angelo menjawab: “Aku rela mati demi meninggalkan karya yang besar.” Begitu hebatnya komitmen Angelo ini; tetapi apa itu karya yang besar? Seorang filsuf terkenal abad XX, William James menjawab: “Karya yang besar adalah karya yang abadi.” Tapi apa itu yang abadi? Lukisan bisa rusak dan dicuri atau dipalsukan orang. Maka Tuhan Yesus yang akhirnya menjawab:

Langit dan bumi akan lenyap, tetapi FirmanKu yang tinggal tetap. (Luk.16:17)

Saya bersyukur dan saya bangga, karena saya tidak salah pilih menjadi hamba Tuhan yang memberitakan FirmanNya yang kekal dan abadi. Inilah karya yang BESAR.   Amin!


[1] Tanda kepemilikan dan bayar pajak sepeda

[2] Perjanjian Lama & Perjanjian Baru

[3] Wasiat adalah peninggalan berharga dari nenek-moyang, dan sering dikeramatkan

[4] Mungkin ayah Timotius belum Kristen

[5] Rhema yaitu Firman Hidup yang aplikatif, subyektif dan relevant

Writings, 5.0 out of 5 based on 1 rating
Page 1 of 212
line
footer
Join Good Neighbour Society to have your own website.